Tak Berkategori  

Saya Datang ke Sini untuk Sembuh

Werry Darta Taifur dituntun petugas ke ruang perawatan di Semen Padang Hospital. (ist)

Mulailah perawat memasang jarum infus dan dua kali dicoba gagal. Baru yang ketiga kali berhasil pemasangan jarum dan setelah itu  saya terikat dengan infus, tidak banyak bergerak dan kalau ke toilet harus dibawa botol infus tersebut. Perawat menyampaikan infus ini diatur untuk habis dalam 10 jam. “Saya hitung perkiraannya habisnya pukul 02.00 dinihari. Sebelum meninggalkan ruang, perawat bertanya siapa yang mematikan mesin pembersih udara ini. Saya jawab saya, karena terlalu bising dan sangat menganggu. Langsung perawat menyatakan mesin ini tidak boleh bapak matikan karena berfungsi untuk membersihkan udara di ruang ini dari berbagai kuman. Saya jawab siap. Sebelum perawat berangkat saya sampaikan dispenser bocor, tisu toilet, dan wastafel belum ada. Perawat menjawab nanti akan ada petugas datang untuk memperbaiki dan memenuhi keperluan bapak,” ucap Werry menirukan jawaban petugas.

Memang betul sekitar pukul 17.00 WIB, datang petugas  laki-laki dengan pakaian APD lengkap untuk membenahi dispenser dan melengkapi apa yang kurang di kamar 514.

Memasuki malam hari dan semakin larut malam dan dalam kesunyian, pikirannya mulai menerawang lagi untuk hal-hal yang negatif.  “Saya tidak bisa tidur dan keringat terus keluar sampai baju basah. Namun untuk mengganti pakaian sudah mulai sulit karena alat infus sudah terpasang. Saya mulai teringat dan terbayang apa yang dilakukan selama ini dan kalau ajal datang rasanya bekal dibawa ke alam baka sangat kurang sekali.  Saya mencoba zikir, tapi hal-hal yang negatif terus bemunculan terbayang dalam pikiran saya, termasuk bagaimana keluarga yang ditinggalkan, anak belum satupun yang lepas tanggung jawab dan berkeluarga, tidak sempat bertemu ibu, saudara dan keluarga,” tuturnya.

Pada saat zikir tersebut  ia sudah mulai tertidur tertidur dan terbangun kira-kira pukul 02.00 WIB dinihari. “Saya lihat infus tidak habis dan slang infus berdarah serta perban yang di tangan juga penuh darah. Langsung saya telepon perawat dan tidak lama perawat datang untuk membenahinya. Setelah dibenahi, perawat memperingatkan agar saya menjaga gerak tangan untuk menghindari pendarahan lagi. Saya pun sebetulnya tidak tahu kapan infus tersebut tidak berjalan dengan baik. Agar tidak terulang lagi pendarahan di slang infus tersebut, saya jaga betul gerak tangan agar infus segera habis. Sudah masuk waktu subuh, infus belum juga habis. Saya mengikuti seluruh petunjuk perawat jika pergi toilet dan shalat pada saat infus terpasang,” jelasnya.

Infus tersebut baru habis setelah mendekati pukul 07.00 WIB, Senin (2/1) dan bertepatan pada saat perawat sedang mengantarkan sararapan pagi, memeriksa suhu, tekanan darah dan mengambil darah lagi untuk pemeriksaaan labor berikutnya.

“Pada saat itu saya minta kepada perawat agar slang infus dilepaskan karena akan mandi dan tukar pakaian,” ucap Werry yang menjalani hari pertama di SPH dengan sangat berat sekali dan pikiran saya terus dihantui dengan berbagai persoalan dan kasus-kasus pasien Covid-19 yang pernah disaksikan melalui media.

Selera makan pun semakin menurun dibandingkan pada saat masuk. Tapi ia bertekad semua pikiran negatif harus dilawan dan  kondisi tubuh tidak boleh menurun yang akan berakibat virus semakin bersemana-mena dalam tubuh. Saya berulang menyatakan dalam hati, saya datang ke sini untuk sembuh, bukan untuk tambah sakit,” ucapnya. (bersambung)