Tak Berkategori  

Sejuta Pinang Batara, Audy Memulai Derap Pemberdayaan Pertanian Sumbar

Tanaman pinang (ist)

Udayana Muafsan

SEBAGAI wilayah yang mayoritas penduduknya bergerak di sektor pertanian, Sumatera Barat tentunya harus lebih fokus kepada sektor ini dalam rangka peningkatan ekonomi masyarakat.

Kelemahan yang terjadi selama ini dan patut menjadi perhatian pemerintah daerah adalah menyangkut ketersedian bibit unggul, distribusi pupuk dan tidak stabilnya harga hasil produksi sebagai akibat minimnya produk unggulan yang di kelola secara secara baik dan terintegrasi dari hulu ke hilirnya.

Cawagub Audy Joinaldy yang juga merupakan pengusaha muda yang sukses di bidang pertanian dan peternakan dalam kunjungan dan silaturahim dengan berbagai kelompok masyarakat di hampir seluruh wilayah, masyarakat kerap terlibat diskusi yang hangat dengan masyarakat petani dalam upaya menampung aspirasi dan mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi.

“Kita harus memulai mendorong usaha pertanian yang memiliki added value yang tinggi dengan menata bidang ini untuk dikembangkan secara terintegrasi,” ujarnya pada suatu kesempatan diskusi.

Untuk itu kita harus mulai menata kembali secara terorganisir dan menetapkan produk-produk unggulan pertanian. Sebagai wujud tanda kepedulian di sektor ini, Audy Joinaldy mencanangkan untuk membuat program Sejuta Pinang Batara. Audy yang nantinya dapat membantu mengangkat ekonomi masyarakat petani kita.

Pinang sebagaimana kita kenal selama ini sering dimanfaatkan bijinya. Biji pinang mengandung alkaloid seperti misalnya arekaina (arecaine) dan arekolin, yang sedikit banyak bersifat racun dan adiktif, dapat merangsang otak. Sediaan simplisia biji pinang di apotek biasa digunakan untuk mengobati cacingan, terutama untuk mengatasi cacing pita.Sementara itu, beberapa macam pinang bijinya menimbulkan rasa pening apabila dikunyah. Zat lain yang dikandung buah ini antara lain arecaidine, arecolidine, guracine (guacine), guvacoline dan beberapa unsur lainnya.

Secara tradisional, biji pinang digunakan dalam ramuan untuk mengobati sakit disentri, diare berdarah, dan kudisan. Biji ini juga dimanfaatkan sebagai penghasil zat pewarna merah dan bahan penyamak. Selain digunakan sebagai ramuan dalam mengobati sakit disentri, biji pinang juga dapat mengobati luka kulit, mengecilkan rahim setelah melahirkan, mengobati mata rabun dan cacingan, menghasilkan zat pewarna merah, penyamak dan masih banyak manfaat lainnya.

Masyarakat Biak dan Serui (Papua) memanfaatkan biji pinang muda sebagai obat untuk mengecilkan rahim setelah melahirkan oleh kaum wanita dengan cara memasak buah pinang muda tersebut dan airnya diminum selama satu minggu. Biji dan kulit biji bagian dalam juga dapat digunakan untuk menguatkan gigi rapuh bersama-sama dengan sirih (penyamak).

Air rendaman biji pinang muda digunakan untuk obat sakit mata oleh suku Dayak Kendayan di Kalimantan Barat. Biji pinang mengandung alkaloida seperti arekaina (arecaine), arekolina (arecoline), guvakolin, guvasine dan isoguvasine yang dapat bersifat racun, adiktif dan merangsang otak bila dalam kandungan berlebih. Senyawa arekolin yang terdapat dalam buah pinang berkhasiat sebagai obat cacing dan penenang.

Arecoline yang merupakan sebuah ester metiltetrahidrometil-nikotinat berwujud minyak basa keras. Senyawa lain yang terkandung dalam biji pinang adalah arecaidine atau arecaine, choline atau bilineurine, guvacine, guvacoline dan tannin dari kelompok ester glukosa yang menggandeng beberapa gugusan pirogalol. Sifat astringent dan hemostatik dari zat tannin inilah yang berkhasiat untuk menguatkan gusi dan menghentikan perdarahan.

Selain itu, buah pinang juga mengandung tannn, lemak, kanji dan resin. Tannin dan alkaloida merupakan dua senyawa yang dominan pada biji pinang dimana kandungan tanin berkisar 15% yang tergolong senyawa polifenol yang dapat larut dalam gliserol dan alkohol, alkaloid berkisar 0,3-0,6%, sedangkan komposisi kecilnya adalah arecaidine, guvacine, guvacoline dan arecoline. Unsur pokok yang lain pada pinang terdiri dari lemak, karbohidrat, protein dan lain-lain. Biji pinang juga dapat diolah menjadi minyak atsiri untuk menjadi bahan dasar pengganti solar.

Khusus untuk jenis pinang Batara adalah salah satu varietas unggul dari Pinang dengan keunggulan sebagai berikut :

  1. Bisa hidup di gambut dan daratan non gambut.
  2. Tidak perlu perawatan khusus
  3. Adaptasi dengan udara bagus
  4. Jarak tanam 3x3m
  5. Berbuah lebat setelah berumur 3 thn.
  6. Bernilai ekonomis tinggi
  7. Bisa sbg tanaman pagar.
  8. Bermanfaat utk dimakan .kosmetic.pewarna dan obat2an
  9. Sebagai komoditi ekspor

Analisa dari varietas Pinang Betara ini juga sangat menjanjikan. Perhitungan berikut adalah simulasi bisa dijadikan acuan :

  1. 1 Ha lahan = 1.000 batang pinang Batara( jarak tanam 3×3 m)
  2. Setelah umur 3 tahun keatas bisa dipetik minimal 5 kg per batang.
  3. Harga pinang basah atau baru dipetik Rp4000 / kg
  4. Hasil yg didapat per Ha Pinang Batara 1000 btg x 5kg x Rp.4000/ kg = Rp20.000.000
  1. Perawatan per bulan Rp2.500.000

6. Hasil Bersih  Rp17.500.000 per Ha per bulan

Dalam skala kecil kalau kita asumsikan  disetiap pekarangan ada 50 pinang Batara berarti tiap bulan bisa dapat tambahan belanja rumah tangga 50 pokok x 5 kgxRp.4000 = Rp1000.000 = Rp 250.000 / minggu.

“Cukup buat biaya dapur  kel kecil di Desa,” ujar Audy dengan senyum khasnya.

Mari kita perkuat ekonomi daerah dengan memperkuat sumber pendapatan masyarakat melalui sektor pertanian. (*)