Tak Berkategori  

Selamat Tinggal Madinah, Kami Pamit Ya Rasulullah

Jemaah berdoa. (*)
Jemaah berdoa. (*)

Laporan Khairul Jasmi

KAMI pergi ya Rasulllah. Sebuah salam perpisahan yang dramatis kami alami, Rabu(25/7) setelah subuh di Masjid Nabawi, Medinah Almunawwarah.

Pagi itu dengan langkah satu-satu, jemaah KBIH Nur Zikrillah berkeliling Nabawi. Sesampai di depan makam Nabi dan sahabat, Prof. Masnal memimpin ucapan pamit. Pilihan kata-katanya menusuk kantong air mata.

Lalu kaum wanita tak mampu menahan tangisnya. Air mata berderai. Sejumlah pria sekuatnya berusaha tak terisak, namum matanya sabak. Betapa tidak, ini perjalanan spritual. Lama menunggu ada yang 10 tahun bahkan lebih untuk menunaikan Rukun Islam kelima, naik haji. Ini belum ke Mekkah masih di Medinah, tapi di sinilah Muhammad, tokoh paling berpengaruh itu dimakamkan.

Saat kami berdoa, jemaah dari bangsa-bangsa lain tertegun. Mereka saja tertegun, apalagi kami. Seorang pria muda Arab, mungkin petugas di Nabawi, berhenti dengan sikap sempurna dan menyimak doa Masnal dalam bahasa Arab yang fasih. Pria itu juga tanpa diminta mengatur jemaah. Dari bahasa tubuhnya ia hormat atas apa yang kami lakukan.


Masjid Nabawi

Kala datang pekan lalu masjidmu, Nabawi menyergap begitu hebatnya. Saya pribadi menjadi ringkih. Masjid nan agung itu, sedemikian teduhnya.

Taman Surga tempat istimewa itu, jutaan jejakmu terkubur di bawah tanah dan tembok. Ke sana kami sujud dengan tak takzim. Di sana siapa saja saya lihat menangis. Orang dewasa menangis karena kehambaannya adalah sebuah peristiwa batin luar biasa.

Kami datang disambut suara azan di bandara Medinah. Seterusnya ke hotel maka dimulailah ziara itu, dimulailah arbain. Di Nabawi!

Selama delapan hari, tiap hari kami ke masjidmu. Lima kali. Berlama-lama. Tak hanya shalat tapi juga mengaji. Jika di Indonesia, seterik ini kami takkan keluar rumah, namun di Medinah semua orang melangkah dengan senang hati.

Di kotamu saya saksikan jemaah dari berbagai bangsa. Yang tinggi, pendek, putih, hitam dan berwarna. Anak-anak, orang tua. Bertongkat, kursi roda, buta dan orang-orang desa. Semua bersujud di karpet tebal Nabawi.

Ini kali pertama saya ke sini dan imbau lagilah ya Rasulullah. Tahukah engkau wahai Nabi, sejak kanak-kanak kami diperkenalkan padamu. Tiap kami punya imajinasi sendiri-sendiri bagaimana sosokmu. Kami melukisnya dalam ingatan dan tak pernah kami sampaikan. Hati kami mengunci hal itu. Hati kami selalu mengingat nama, sifat dan teladan serta warisan.


Imam

Abdur Rahman Al Huthaify imam besar Masjid Nabawi meminta saf diluruskan. Tak lama kemudian shalat dimulai dan tatkala ia memilih ayat, sepanjang apapun, jemaah akan hanyut oleh suara indahnya. Kian panjang kian merasuk ke dalam jiwa.

Bertemu ruas dan buku, jemaah datang dengan semangat penghambaan yang sempurna, disambut masjid yang dibuat Nabi dan para imamnya fasih.

Imam lainnya tak kalah hebat. Syekh-syekh itu: Salaah Al Budai, Sheikh Dr. Abdulbari Awadh Al-Thubaity, Dr. Abdul Muhsin Al-Qasim, Dr. Hussain,  Abdul Aziz Aal Sheikh dan  Dr. Ahmad ibn Taalib Hameed serta  Dr. Abdullah Bu’ayjaan. Kefasihannya merupakan contoh bagi seluruh dunia.

Shalat di Nabawi merupakan bonus platium dalam rangkaian ibadah haji, apalagi di kota ini jemaah ziarah ke berbagai tempat seperti Masjid Quba dan Qiblatain dua masjid bersejarah. Quba masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad. Qiblatain, di masjid ini Nabi jadi imam dan saat itu kiblat dibanti dari Baitul Maqdis ke Masjidil Jaram.

 Terima kasih

Padamu ya Rasullah pada Humaira pada para sahabat yang pakek-pakek darahnya, kami ucapkan terima kasih. Pada warga Medinah yang ramah  kami merindukan kotamu lagi.

Terima kasih pada semua petugas kebersihan dan keamanan di Nabawi yang cekatan dan sigap. Tak ada sampah di sekitar apalagi dalam masjid.

Saya merindukan orang dari bangsa-bangsa lain yang shalat di dekat saya. Yang sempat bercakap-cakap tentang bangsa kita masing-masing. Saya rindu mereka yang menyalami dan disalami.

Sekarang pukul 08.00 pagi atau 12 siang di Indonesia saat tulisan ini saya selesaikan fi dalam Masjid Nabawi seusai shalat Dhuha. Saya duduk di karpet merah, mungkin buatan Turki.

Selamat tinggal Medinah, seru kami kembali untuk datang ke sini. (bersambung)