oleh

Seluruh Daerah se-Sumatera Ikuti Rakor Penanganan Rabies

PADANG – Hari ini, Rabu (30/9) sedang berlangsung rapat koordinasi rabies di Bukittinggi. Rakor ini ikuti seluruh daerah di se-Sumatera.

Menurut Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. Irene Susilo, kepada Singgalang, Rakor tersebut membahas tentang pengendalian rabies oleh dua leading sector yakni dinas kesehatan dan dinas peternakan.

“Kami dari dinas kesehatan mengurus permasalah yang terjadi pada manusia dan dinas peternakan mengurus hewan penyebab rabies,” ujar Irene.

Dijelaskannya, selama 2015 terhitung Januari hingga Agustus, terdapat 2601 kasus  gigitan hewan penular rabies.

Kalau rabies pada manusia (Lyssa) 2015 ada 5 orang, dengan rincian Pesisir Selatan  2, Kabupaten Solok 2, Sijunjung 1.

“Hitungan gigitan itu kalau buat kami adalah jumlah orangnya. Bukan jumlah gigitan atau anjingnya. Ada kalanya 1 anjing menggigit 4 orang. Jadi prinsip di kesehatan kalau ada 1 orang digigit HPR maka akan dilihat lokasi lukanya. Kalau lukanya risiko tinggi, langsung diberi VAR dan SAR,” terang Irene.

Lebih lanjut dikatakannya, luka risiko tinggi adalah luka dekat syaraf. Sedangkan luka resiko rendah maka anjing dipantau 14 hari dan tetap diberi makan. Kalau anjingnya tetap hidup selama 14 hari makan di lakukan pemberian VAR. Biasanya anjing rabies akan mati kalau menggigit orang.

“Kami imbauan pada masyarakat Kalau digigit anjing, cuci luka dengan sabun dan air mengalir. Lalu langsung bawa ke sarana pelayanan kesehatan. Sedangkan anjingnya jangan bunuh. Sebab  kalau anjingnya hilang atau dibunuh, terpaksa harus di suntik VAR,” pungkasnya. (yuke)

Loading...

Berita Terkait