Semalam di Jawi Jawi, Puluhan Bule Bermain Congklak

Sejumlah bule bermain congklak di Jawi Jawi. (rusmel)

AROSUKA – Tidak ada yang aneh ketika orang bermalam di suatu nagari, juga tidak di Nagari Jawi Jawi. Barangkali, yang membuatnya menjadi lebih unik, karena yang menginap itu bule.

Mereka juga diajarkan main congklak oleh anak-anak setempat. Sebuah permaianan anak nagari yang sudah mulai hilang. Namun di Jawi-Jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok permainan perintang waktu tersebut masih ada dan terus disukai.

Para bule itu berasal dari beberapa negara. Mereka hadir untuk menikmati suasana kampung budaya, sebuah wilayah peradaban yang masih segar dengan keasliannnya. Itu pula alasan, kenapa Jawi-Jawi kemudian diproyeksikan sebagai kampung wisata. Satu dari puluhan nagari yang masih kental dengan kebiasaan sehari-hari di bumi Markisah itu.

Disambut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Solok Yandra dan Walinagari Jawi Jawi Laswir serta Direktur Pusat Kajian Pariwisata Unand Padang DR. Sari Lenggogeni, Sabtu (10/3/2018), bule-bule itu bahkan dijadwalkan menginap di rumah gadang yang telah dikembangkan menjadi homestay di Kampung Budaya tersebut.

“Para turis ini antusias mempelajari budaya lokal, termasuk menikmati aliran sungai Jawi Jawi yang masih asli dengan tepian mandinya,” papar Yandra.

Rombongan wisatawan dari mancanegara yang tergabung dalam Assosiation For the Internasional of Student Exchange and Commerce (AIESEC), hadir di Jawi-Jawi sebagai rangkaian dari aktivitasnya untuk mengenali tradisi serta budaya penduduk lokal di Sumatera Barat. Sebagai destinasi wisata, Jawi Jawi adalah pilihan. Nagari nan elok itu juga dikenal memiliki banyak rumah Gadang, sehingga dinobatkan sebagai desa wisata Budaya oleh Kemenpar RI.

Yandra, menegaskan Jawi Jawi masih kental adat dan budayanya. Jawi Jawi Guguk layak dipromosikan ke pariwisata internasional. Potensi disini cukup unik. Adat, budaya, dan makanan kuliner sebagai hasil produk UKM serta pertanian di nagari itu mencerminkan identitas Solok seutuhnya.

“Kita sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada turis yang notabene mahasiswa AISEC. Kemudian juga mengajari mereka untuk merasakan sensasi gaya hidup masyarakat lokal,” paparnya.

Seperti yang dikatakan Yandra, bemalam di Jawi Jawi, para turis itu berbaur dengan masyarakat setempat. Mereka beradaptasi, bagaimana cara hidup dan berkehidupan. Anak-anak muda dari mancanegara itu diajak mandi di kali, makan bajamba, dan membajak sawah menggunakan tenaga kerbau.

Itu dilakukan agar para turis merasakan pengalaman baru yang belum pernah didapatkan di negara asalnya, karena kebanyakan turis tersebut berasal dari Eropa seperti Republik Ceko, Prancis dan Hungaria, kemudian juga ada dari Chile, dan negara Asia Tenggara yakni Thailand dan Vietnam.

” Selama di Jawi Jawi, turis ini memakai pakaian khas Jawi Jawi Guguak, pakai deta dan sarung bagi laki-laki, serta memakai tingkuluak untuk perempuan, sehingga akan ada kesan mendalam bagi mereka,” kata Yandra.

Menyambut itu, Walinagari Laswir mengaku gembira karena peran serta masyarakat dalam menyemarakkan nagari. Kedatangan turis sekaligus menjadi momentum bagi Jawi Jawi Guguk untuk menarik perhatian wisatawan asing berkunjung. Karena yang ditonjolkan adalah aspek adat istiadat, budaya dan gaya hidup. Peran aktif masyarakat sangat diharapkan dalam menggerakkan wisata budaya.

“Karena tamu kita adalah warga asing, kita juga memberdayakan mahasiswa asli Jawi Jawi Guguk yang bisa berbahasa inggris sebagai turis guide. Kemudian masyarakat kita dorong menampilkan kebudayaan daerah kita,” ujarnya.

Kunjungan wisatawan asing selama dua hari tersebut, merupakan kunjungan pertama dari mancanegara semenjak Jawi Jawi Guguk ditetapkan sebagai desa wisata budaya. Para wisatawan menginap di rumah gadang, agar nagari Jawi Jawi bisa lebih dikenal.

“Kita tidak membuat target jangka pendek dalam membangun pariwisata. Namun target jangka panjang kita, kampung Wisata Budaya harus dipoles dari waktu ke waktu,” tegasnya.

Sementara itu, Sari Lenggogeni, Direktur Pusat Kajian Pariwisatan Unand Padang yang aktif dan ikut merekomendasikan Jawi-jawi menjadi desa Wisata, mengatakan aspek kebudayaan Jawi Jawi Guguk masih sangat kental, masih belum begitu tergerus oleh kebudayaan luar. Ia mendorong agar dilakukan pelestarian dengan pola mengembangkan wisata budaya.

Dengan cara begitu, masyarakat juga punya peran dalam melestarikan hal-hal yang hari ini telah dipandang sebagai sesuatu yang unik. Maka, arah pengembangan Wisata budaya di Jawi Jawi ini lebih kepada peran serta masyarakat bagaimana mengelola kepariwisataan berbasis masyarakat agar mampu meningkatkan kualitas pariwisata yang dicanangkan.

“Kita tidak terlalu terburu-buru untuk mematok target banyak pengunjung yang datang, tapi lebih kepada bagaimana supaya pariwisata ini berkualitas. Biarlah, untuk awal sedikit, tapi seiring peningkatan kualitas, pengunjung akan bertambah,” alasnya. (rusmel)

Loading...