Tak Berkategori  

Seminar Dinas Kominfo, Pers Jadi Alat Perjuangan Negara

Ketua PWI Sumbar, Heranof dan Kabid pada Badan Kesbangpol Sumbar Syahlaluddin memaparkan peran pers dalam upaya bela negara, Selasa (19/11). (zulfadli)
Ketua PWI Sumbar, Heranof dan Kabid pada Badan Kesbangpol Sumbar Syahlaluddin memaparkan peran pers dalam upaya bela negara, Selasa (19/12). (zulfadli)

PADANG – Di momen Hari Bela Negara 2017, Dinas Komunikasi dan Infornasi Sumbar menyelenggarakan seminar bertema pers dalam perjyangan bela negara. Pers diharapkan untuk tetap jadi alat perjuangan bangsa dan negara.

“Pers itu dari dulu seiring dengan gerakan memperjuangkan kemerdekaan. Lewat pers orang bisa tau tentang perjuangan tersebut,” ujar Ketua PWI Sumbar Heranof, Selasa (19/12/2017).

Saat ini, pers pun harus tetap dipertahankan menjadi alat perjuangan. Mempersatukan bangsa dan mencegah pengaruh buruk terhadap keutuhan bangsa.

Dalam konteks kekinian, kemajuan teknologi menjadi tantangan tersendiri. Di sini pers harus menentukan sikap dan peran positifnya. Jangan sampai ikut menyebarkan informasi yang belum terkonfirnasi.

“Pers harus cerdas menerima informasi dan jjangan ikut menebar informasi yang salah,” tegasnya.

Heranof pada kesempatan itu mengungkapkan perjalanan hari bela negara hingga ditetapkan SBY melalui Kepres nomor 28 tahun 2008.

Telah 11 tahun berlalu dan ini pengakuan terhadap peran Sumbar dalam membela negara.

Dia pun bercerita perkembangan surat kabar sejak sebelum kemerdekaan sepeeti Cahaya Sumatra (Aceh), Sunting Melajoe (Sumbar). Pewarta Borneo (Kalimantan), Pemberitaan Betawi, Sinar Djawa, dan Benteng Pagi di Surabaya.

Bahkan Douwes Dekker yanf wartawan Belanda yang menyuarakan perjuangan rakyat Indonesia.

Syahlaluddin dari Badan Kesbangpol Sumbar menyatakan tantangan dari dalam yang paling berat dalam konteks bela negara.

Kabid Poldagri ini memaparkan upaya mewujudkan bela negara dalam mewujudkan keutuhan negara. “Jadilah orang yang profesional di bidangnya dan bangunlah karakter positif untuk menghadapi persoalan kebangsaan,” ujarnya.

Untuk membela negara, perlu memahami kondisi negara secara geopolitik, potensi NKRI yang luar biasa, potensi konflik dan lainnya.

Penting dimengerti plus minus reformasi. Terutama kebebasan yang luar biasa saat ini.

Sikap dan perilaku warga negarayang dijiwai oleh kecintaan kepada NKRI dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Unsur bela negara cinta tanash air, kesadaran berbangsa, yakin akan pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, memiliki kemampuan bela negara.

Panitia Pelaksana, Indra Sukma menyebutkan pilihan tema ini sengaja dipilih untuk memberitahukan kepada generasi muda yang belum banyak yang tahu hari bela negara.

“Kami berharap rekan-rekan pers berperan aktif dalam bela negara ini,” ujarnya. (zul)