Tak Berkategori  

Semoga Wabah Ini Cepat Berlalu

Andri Mardiansyah

 

PADANG – Dengan langkah penuh ke hati-hatian, Andri Mardiansyah keluar dari ruang operasi cesar RSUP M. Djamil Padang. Tak satu pun beda yang dia sentuh selama dalam ruangan tersebut. Baju hazmat yang melindungi tubuh tipisnya basah oleh keringat. Panas, sudahlah tentu. Dia rasakan bagaimana dibungkus baju plastik lengkap, kacamata google, masker dua lapis, sepatu boots. Terbayang olehnya bagaimana tenaga kesehatan berjam-jam dalam balutan hazmat tersebut.

Hatinya mulai was-was. Ancaman tertular virus Covid-19 ada di depan mata. Namun rasa itu berusaha ditepisnya. Dia ingat pesan orangtua, jika niat baik akan dilindungi Tuhan. Diperbanyaknya berzikir menyebut nama Allah. Kemudian hatinya mulai tenang. Ditambah pula dengan status pasien operasi cesar itu negatif dari virus menular tersebut.

Keluar dari ruang operasi, ayah satu anak itu masuk ke ruang ganti nakes. Lagi-lagi, dengan penuh kehati-hatian, dia membuka satu persatu APD yang melekat di badan. Jika tidak, fatal aibatnya. Pertama, sarung tangan. Sebelum dibuka disemprot dengan hand sanitizer.

“Saya pakai sarung tangan dua lapis. Setelah lapis pertama lepas saya semprotkan lagi hand sanitizer. Kemudian saya buka baju hazmat. Saya gulung ke bawah. Dalam baju hazmat ada baju khusus bedah yang diberi nakes. Kemudian saya cuci tangan lagi. Setelah itu baru saya buka kacamata. Cuci tangan lagi. Lalu buka masker N95. Cuci tangan lagi. Baru buka masker bedah. Cuci tangan lagi, buka penutup kepala, cuci tangan lagi dan terakhir saya buka sarung tangan kedua. Semua APD itu dibuang ke tong sampah infeksius” kata Andri.

Selama dalam ruangan detak jantung Andri lebih kencang dari situasi normal. Ini mungkin efek stigma takut terpapar. Namun dikuatkannya diri berbisik pada Allah. “Niat saya baik, hanya untuk mengabadikan moment bersejarah dan akan diperlukan dikemudian hari,” ujarnya.

Setelah semua APD lepas, dia pun keluar gedung berwarna putih itu. Dipacunya motor dengan kencang menuju kantor gubernur Sumbar, yang beberapa bulam menyediakan posko Tanggap Covid-19 untuk media khusus memliput covid. Siang itu ruangan tempat jurnalis mangkal kosong, dia pun meletakkan semua peralatan liputan. Lalu berlari menuju toilet di bawah tangga lantai 2, untuk mandi sebersih-bersihnya. Diganti semua pakaian melekat. Setelah itu dipacunya lagi motornya menuju kediamannya di kawasan Tabing Padang.

Sampai di rumah dia kembali mandi dan langsung mencuci pakaian yang dipakai dalam ruang operasi. Kemudian mengurung diri dari istri dan anak. Terpisah dinding tembok. Dua pekan lamanya, namun begitu menyiksa. Terbayang lagi bagaimana nakes di setiap rumah sakit harus jauh dari keluarga karena tugas dan tanggung jawab. Terbayang pula orangtua di kampung yang selalu berdoanya dalam menjalankan pekerjaan sebagai jurnalis, terutama selama wabah Covid-19.

“Saya bukan jurnalis dan fotografer hebat. Tak ada niat untuk sok paten. Saya hanya ingin menjadi bagian dari sejarah panjang sepak terjang Covid-19, yang menghantam, semua sektor. Sejak dulu, saya selalu menyisakan rasa takut untuk selalu waspada. Saya selalu berpegang kepada prinsip “Tuhan Bersama Orang-Orang Berani”. Sebutnya.

Andri mengisolasi diri selama 21 hari. Selama itu dihabiskannya waktu dengan mengikuti zoom, mengedit hasil jepretan, membuat berita. Sesekali dilihatnya istri dan gadis kecilnya dari balik kaca kamar, kemudian mereka saling vidio call. Beruntung putri semata wayangnya tahu kenapa ayahnya mengurung diri jauh darinya.

“Gadis kecil saya tahu profesi ayahnya. Saya saja yang sulit jauh berlama-lama darinya. Ingin memeluk dan menciumnya tapi takut kalau-kalau saya terpapar saat dalam ruang operasi, lalu menulari istri dan anak. Jadi saya redam semua rasa hingga 21 hari berlalu. Setelah merasa aman dan kembali berkumpul dengan istri dan anak,” ujar Andri.

Berdiam diri selama 21 hari dalam kamar dilakukannya mengingat perjalanan virus dari 2 sampai 4 hari, 4 hari sampai 7 hari, 7 hari sampai 21 hari dan 21 hingga 35 hari. Setelah itu orang yang sakitnya parah atau ada penyakit penyerta akan dirawat di rumah sakit.

“Jujur, hal yang paling saya takutkan adalah terpapar Covid-19. Toh, kalau pun saya terpapar karena risiko pekerjaan saya sudah menyiapkan diri dan alhamdulillah sampai saat ini saya masih dalam lindungan Allah. Semoga wabah ini cepat berlalu dan kondisi bisa kembali ke situasi normal. Tenaga kesehatan lepas dari beban berat ini,” tutupnya. (yunisma)