Tak Berkategori  

Senja di Talago Koto Baru

Sejumlah pengunjung menikmati keindahan Talago Koto Baru di sore hari (kj)

SENJA jatuh melayang bersama sinar matahari yang cemerlang di tepian Talago Koto Baru .

Ini Rabu 18 Maret, langit sempurna jernih, muka telaga tenang. Muda-muda duduk berkisah sesamanya di tepian telaga purba ini. Di plaza kecil Bika Tapi Talango ini, mereka menikmati waktu seindah yang mereka bayangkan.

Dua gadis yang datang dari Kubang Putiah, Agam, duduk di bangku panjang menghadap ke talago di tepi jalan raya Padang Panjang – Bukittinggi ini. Angin sepoi membelai seperti belaian seseorang pada orang lain.

Di kaki Marapi seolah bisa dijangkau saja, ladang petani terhampar seperti menjanjikan hasil bumi terbaik untuk warga sekitarnya. Di sebidang ladang, tampak asap gulma kering yang dibakar membubung. Putih lalu pecah dikibas angin.

Di sini bisnis bika mekar bagai senyum kasirnya. Silih berganti tamu datang, membeli, tungkus lalu pergi. Atau, mereka duduk bersama pasangan.Inilah Talago di Koto Baru di kaki Gunung Merapi yang mempesona, sesekali menakutkan.

Talago yang menyempit ini akan semakin indah jika seperti semula jadi dulu. Di sini ada dua talago, yang di atas dan yang di bawah, keduanya mempesona.

Sebenarnya ini adalah telaga dari Merapi, gunung dengan tinggi 2.910 mdpl. Dan senja itu tak beriak, kecuali kena ujung pancing tiga pria yang berdiri di tepi yang terpisah.

Matahari telah tersandar ke sisi Singgalang sebelah sana, cahayanya tersisa menyapu puncak Marapi di sini. Puncak gundul itu seperti elok dijangkau saja.

Lama juga saya berdiri di sini menunggu bika tapi talago yang dipesan untuk ditungkus. Antre pula. Tapi, sudahlah, hutang ka saringgik juo, saya nikmati saja talago ini. Jika ingin kembali muda mustahil saja, yang tak mustahil melihat anak muda duduk berjejer bersama temannya. Juga kaum ibu bersama anak dan cucunya.

Dan, di tungku terjerang periuk tanah dengan api yang menyala-nyala. Di sini uang dicetak dengan api dan pesona alam. (khairul jasmi)