Serasa Mimpi Tiba di Tanah Suci

Syarli Can dan istri berfoto dengan latar belakang Jabal Rahmah di Arafah. (ist)

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Membuat rumah tidaklah sulit, tapi membangun rumah tangga di atas rumah tersebut, bukanlah pekerjaan gampang

***

Bandara Medinah ramai 17 Juli 2018 siang. Syarli Can (47) seolah tak percaya ia bisa sampai ke Kota Suci ini. Istrinya, Tresia Ismayani (46) menangis. Air matanya hangat, sehangat hatinya.

Ndak nyangko, sampai juo wak ndak Da,” katanya. Selanjutnya adalah hari-hari penuh ibadah. Shalat mereka lengkap dan dilaksanakan sepenuh hati. Bagi Can kembali teringat ibunya, ia dilepas dengan tangis haru. Jangan sang ibu, dia saja nyaris belum percaya akan berhaji. Baru di Medinah, jalan masih panjang.

Sekarang sudah separuh jalan. Jumat (10/8), sudah 23 hari, tinggal 18 hari lagi semua prosesi ritual haji selesai. Pasangan bahagia ini sedang mempersiapkan diri untuk puncak haji, wukuf di Padang Arafah.

Lalu siapa Can? Dia adalah ayah 3 anak dengan gaji Rp1.750.000 sebulan. Semua gaji itu diserahkan pada istri. Pada awalnya ia bekerja sebagai pegawai lepas pada kantor Gapensi Padang. Waktu itu tahun 1992 dengan gaji Rp80 ribu. Sebanyak diterima, sebayak itu pula ia berikan pada istri. Bekerja pada kantor organisasi perusahaan itu tentu tak seperti PNS yang punya standar dan kenaikan gaji berkala. Ada pangkat dan ada macam-macam. Dia tidak. Sejak dapat gaji itu, ayah tiga anak ini bersama istri sepakat menabung. Uang untuk kebutuhan dan biaya anak-anak, ada- ada saja rezeki halal yang dapat.

Sementara itu, istri pun membuat kue pesanan dan membuka les bahasa Inggris di rumahnya di Siteba, Padang. Karena gaji di Gapensi ditabung semua, maka Can lantas mengojek selama tahun, uangnya untuk makan dan ongkos haji. Selepas itu, 3 tahun pula, bawa taksi. Di Gapensi ia suka dimintai tolong untuk urus-urus dokumen proyek. Karena jerih payahnya ia dapat jajan dari para pengusaha.

“Menurut saya gaji saya sudah lebih dari cukup, meski itu Rp1.750.000, makanya kami nabung,” kata pria yang sering berdagang telur puyuh ke kantornya. Ia ingat pesan mertuanya yang parajurit, “jika ingin sesuatu maka harus tahan selera.”

Istrinya yang orang Sungai Sariak, Padang Pariaman itu, adalah ibu yang telaten mengasuh anak. Mereka punya tiga anak, yang tua mahasiswa Bahasa Inggris di Universitas Bung Hatta dan tahun ini akan wisuda. Yang nomor dua perempuan, di SMA 2 Padang dan si bungsu kelas SD.

Ini Jumat, saya belum mandi, tapi Can sudah segeh untuk pergi berjumat. Pukul 10.11. Pukul 11.00 saya mau akan pergi sebab semalam capek tak terkira sehabis tawaf.
Uang yang ia tabung selama 26 tahun, berlebih malah. Biaya haji berdua hanya Rp50 juta. Sebelum berangkat banyak pengusaha yang salut padanya. Mendaftar ONH plus belum juga berangkat tapi Can pekerja kantor di Gapensi, sudah terbang ke Makkah bersama isteri tercinta.

Kata guru agama saya saat siswa di SPG Padang Panjang pada awak 1980 lalu, “membuat rumah tidaklah sulit, tapi mendirikan rumah tangga di atas rumah tersebut, bukanlah pekerjaan gampang,” lekat di kepala saya sampai sekarang. Sering saya pakai dalam menulis dan kinilah kalimat itu terasa amat cocok.

Selain Can saya menemukan ada orang tua yang diajak anaknya naik haji. Usianya 80, ketika saya sapa senang hati nenek itu. Ia dihibur terus oleh teman-teman sekamarnya.
Ada lagi ibu dan anak, yang menabung rupiah demi rupiah dari uang jual nasi untuk siswa dan mahasiswa. Juga ada satu keluarga berangkat. Semua datang untuk menunaikan Rukun Islam itu.

Makkah benar-benar ramai, manusia menyemut. Tadi malam saja di dalam sesak di luar penuh sampai ke jalan. Apalagi ini Jumat. (bersambung)