feature

Shalat Zuhur di Masjid Terapung

×

Shalat Zuhur di Masjid Terapung

Sebarkan artikel ini

Oleh: Khairul Jasmi

Pelataran masjid terapung, Kendari.(ist)

Gerimis jatuh berderai-derai tatkala kami asyik berfoto di pelataran masjid terapung, Kendari. Sekarang, hanya ada segelintir pengunjung yang tersisa, Selasa (8/2) siang.

Masjid ini sebenarnya tak terapung tapi terletak di sebuah pulau buatan. Kecil saja, terpaut 1,5 Km dari jalan raya. Jalan raya itu, agak jauh dari pemukiman, masjidnya apalagi. Jalan dua lajur menusuk ke tengah teluk, menuju pulau buatan itu. Di sanalah masjid berdiri dengan gagah.

Sebelum sampai, sudah terlihat empat menara warna putih, kombinasi warna biru dan hijau, menjulang. Kubah emasnya, mencolok dengan puncak kecil warna sama dan di atasnya bertengger lambang bulan sabit.

Laut di sini tenang, karena memang teluk, walau begitu kaki-kaki masjid dihempas-hempas lembut oleh riak.

Kami tigo awak Singgalang — saya, Sawir Pribadi dan Widya Navies – – tiba di sana, sekitar pukul 14.00 Wita. Jalanan sudah basah sejak beberapa jam sebelumnya. Sehabis makan ikan bakar, ditambah secangkir kopi di tempat terpisah, lalu melaju ke masjid.

Baca Juga:  Jelang Gelaran MotoGP 2022 Mandalika, KPLP Ikut Amankan Perairan NTB

“Makan ka makan se sumbayang lu,” kata Sawir.
“Iyo nah,” jawab Widya Navis.
‘Ocre,” jawab saya pula.

Dan mobil melaju lembut di jalan yang lalulintasnya tidak ramai itu. Sampai di masjid ikonik Kendari itu, susana agak sepi. Sepi sendiri di tepi teluk. Disenjaga benar ke sana baru bisa, tapi jangan jalan kaki, karena terbilang jauh.

Masjid AL Alam namanya, dipungut dari nama Gubernur Sulawesi Tenggara yang membangun rumah ibadah itu, Nur Alam. Mulai dibangun pada 2010 dan diresmikan delapan tahun kemudian.

Empat menaranya, seperti hendak menusuk langit. Paling tinggi 321 meter, sisanya agak rendah.

Menara yang runcing ke atas itu, adalah wajar, tapi menjadi menarik karena berada di kawasan yang tak ada bangunan lain.

Rumah ibadah ini dirancang arsitek Mursyid Mustafa dari Sulawesi Selatan. Ia meniru gaya Burj al Arab di Dubai, sebuah masjid nan megah di kawasan Timur Tengah.