Sipol KPU Rawan Serangan Siber, Anis Matta: Pemilu 2024 Berpotensi Alami Kekacauan

JAKARTA – Kasus peretasan data oleh hacker Bjorka, memicu Indonesia menghadapi dua tantangan besar saat ini, yakni eskalasi konflik geopolitik dan konflik pemilihan umum (Pemilu) 2024.

Karenanya, pemerintah harus benar-benar menjaga atau memperkuat sistem pertahanan siber agar tidak terseret dalam konflik yang tidak perlu.

Peringatan ini disampaikan Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Anis Matta dalam Gelora Talk bertajuk ‘Bjorka dan Ancaman Kedaulatan Digital Kita’, Rabu (21/9/2022) sore.

Dalam jangka pendek yang perlu diantisipasi terkait kebocoran data, menurut Anis Mata adalah memperkuat sistem pertahanan nasional dengan menjadikan siber sebagai matra baru dalam sistem pertahanan nasional.

Sebab cepat atau lambat, eskalasi konflik geopolitik akan menyeret Indonesia dalam pusaran besaran konflik dalam waktu dekat.

“Bukan hanya di Eropa, tapi Kawasan Pasifik akan menjadi spot paling panas di hari-hari yang akan datang,” katanya sembari menegaskan kalau serangan siber juga sangat mungkin terjadi pada Pemilu 2024 mendatang, meskipun KPU telah menerapkan kombinasi penggunaan data manual dan digital dalam Sistem Informasi Partai Politik (Sipol) KPU.

Proses kombinasi seperti ini, masih menurut mantan Wakil Ketua DPR RI inu, sangat memungkinkan terjadinya serangan siber pada Pemilu 2024, sehingga bisa saja mengalami banyak kekacauan.

Untuk itu, Anis meminta pemerintah belajar dari kasus Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 2016 dan 2020, yang sampai sekarang tidak dipercayai, bahkan mantan Presiden AS masih terus mengangkat kecurangan Pemilu 2020 hingga kini.

“Apalagi di tengah krisis ekonomi sekarang ini, sedikit saja ada trigger dari mishandling dalam kasus data Pemilu nanti 2024, kita sangat mungkin terseret dalam kerusuhan politik,” katanya.

Sebab, suasana psikologis masyarakat di tengah krisis ekonomi secara keseluruhan menjelang Pemilu 2024 panas bisa meledak setiap saat.

“Secara mental dan suasana psikologis, masyarakat itu dalam kondisi siap untuk meledak. Karena itu, saya mengulangi kembali agar pemerintah memperkuat sistem pertahanan siber kita, supaya kita tidak terseret dalam konflik yang tidak perlu,” pungkas Anis Matta. (Ery)