Tak Berkategori  

Skills Gap: Kasus Payakumbuh

Elfindri (ist)

Oleh: Elfindri

BEBAN pasar kerja akan semakin berat. Beban itu terjadi sebagai akibat dua gelombang besar yang menyebabkan persoalan ini muncul. Pertama perubahan cohort usia penduduk yang lahir lima belas tahun lalu (tahun 2005) atau lebih. Usia penduduk tersebut masuk ke dalam usia kerja pada masa sekarang. Jumlah angkatan kerja akan semakin meningkat pada masa yang akan datang.

Kedua adalah semakin terdidiknya pencari kerja yang akan masuk ke pasar kerja. Antara permintaan pasar kerja dengan mereka yang menawarkan jasa tenaga kerja menyebabkan ketidakseimbangan. Dimana pada gelombang yang kedua ini antara yang diperlukan pasar kerja dengan pekerjaan yang diperlukan masih timpang.

Sementara untuk mengatasi masalah ini, diperlukan investasi agar terjadi pertambahan kapasitas usaha serta menghasilkan nilai tambah. Kemudian untuk memenuhi kelebihan permintaan barang-barang dan jasa-jasa diperlukan pula penyesuaikan produksi.

Analisis kesenjangan pasar kerja ini memberikan makna, apa yang diperlukan agar kedua gelombang penduduk yang masuk pada pasar kerja ini tidak mengalami kesulitan yang berarti. Artinya pertumbuhan ekonomi yang dapat membuka lapangan kerja. Menganggur bagi yang muda dan terdidik, merupakan beban sosial sosial costs yang tinggi. Oleh karenanya mesti ada jalan ke luar untuk mengatasinya.

Kesimbangan

Bagaimana setiap pencari kerja mampu membuat pekerjaan, atau diserap pasar kerja? Jawabannya adalah mereka akan terserap jika terjadi pertambahan permintaan tenaga kerja yang ada di pasar kerja.

Oleh karenanya dalam pandangan Neo Clasic, pertumbuhan nilai tambah bisa dilihat melalui peranan meningkatnya produktivitas kerja, besarnya investasi, atau perubahan teknologi kerja. Selain dalam penyediaan tenaga kerja, keterampilan kerja juga semakin diperlukan.

Sebuah kajian yang dilakukan Saudara Hafiza, pegawai Pemko yang menyelesaikan kajiannya untuk menyelesaikan S-2 pada Perencanaan Pembangunan, Pascasarjana Unand, cukup menarik. Kajian ini melibatkan pelaku usaha subsektor industri dengan sampel berdasarkan kuota di Kota Payakumbuh.

Permintaan tenaga kerja berdasarkan keterampilan diukur melalui jumlah keterampilan yang diperlukan dari data isian di Dinas Ketenagakerjaan setempat. Sementara ketersediaan keterampilan diukur dari daftar isian keterampilan yang dimiliki oleh pencari kerja.

Kajian menunjukkan bidang-bidang yang permintaan yang tinggi (distribusi di atas 5% dari total keterampilan yang diperlukan oleh subsektor industri) adalah Tata Boga, Pemasaran, Bengkel, Inovasi Produk Makanan, dan Manajemen Perkantoran. Sementara distribusi penyediaan keterampilan yang relatif besar adalah Keterampilan Las, Service Komputer, Microsoft Office, Tata Boga, Pemasaran, Service Electric/Kompor gas.

Data permintaan dan penawaran tenaga kerja dilihat khusus untuk sektor industri. Keterampilan yang paling besar diperlukan adalah bidang pemasaran sebanyak 19,5%. Kemudian diikuti diperlukannya keterampilan Tata Boga 14,6%. Sedangkan jumlah pencari kerja yang memenuhi keterampilan tata boga sebesar 17,9%.

Jelaslah dari segi keperluan dengan yang dibuatkan dalam pemenuhan keterampilan tidak sejalan. Penjelasannya sangat klasik.Bahwa tidak hanya kebutuhan akan skills,namun juga diperlukan pemahaman tentang proses produksi, dan sistem bisnis yang berkembang. Dua aspek terakhir tidak diintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran.

Penyediaan Lembaga

Kebutuhan keterampilan yang belum terpenuhi adalah Desain Produk Tekstil, Service Excellent, Desain Interior, Desain Produk Furnitur, Pengemasan Produk, Pengolahan Materi Logam, Inovasi Produk Makanan, Teknik Pengolahan Cokelat, Desain Alat Pertanian, Teknik Pengolahan Tanah Liat/Batako, Kreasi Produk Berbahan Baku Bambu.

Terdapat 4 Sekolah Menengah Keterampilan (SMK) yang menyelanggarakan pendidikan keterampilan dengan jumlah siswa, berkisar antara 30-150 orang perbidang dan cukup bervariasi pada 30 jenis dan bidang yang tersedia.

Namun untuk bidang-bidang yang diperlukan masih belum tersedia. Kendatipun ada pendidikan tinggi, Institut Keteknikan, Politeknik Pertanian, dan serta jurusan Manajemen dan Ekonomi, kelas diuniversitas. Bidang-bidang yang dikembangkan mestinya mengakomodasi penyediaan tenaga keterampilan yang diperlukan oleh masyarakat setempat.

Keterampilan yang berkaitan dengan inovasi produk makanan belum cukup tersedia, sementara permintaan sangat besar, termasuk desain dan kemasan produk. Dengan demikian diperlukan upaya untuk ke arah ini.

Demikian juga untuk memenuhi keterampilan, misalkan  keterampilan pengelasan. Dengan pembekalan bagi pekerja las tentunya menyebabkan banyaknya ketersediaan jasa pekerja las. Akan tetapi ketersediaan yang ada tidak terserap dengan keperluan. Bisa jadi keperluan las tetap tinggi, tetapi jenisnya bukan las yang biasa.

Upaya untuk merumuskan keterampilan yang dibutuhkan lebih detail lagi sangatlah penting. Dengan peta keperluan tersebut, diperlukan pula Training Of Trainer untuk melahirkan para instruktur yang sanggup melatih atau penyelenggaraan kegiatan magang yang bisa melahirkan banyak tenaga kerja yang dalam jangka jangka panjang bisa tersedia hingga kecamatan-kecamatan. (Penulis Profesor Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Unand)