Sumatera Barat dan Hari Bela Negara

Oleh: Eka Putra, Wabendum DPP Partai Demokrat

Semenjak tahun 2006, setiap tanggal 19 Desember rakyat Indonesia memperingati hari bela negara. Hal ini dipelopori oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Keppres No. 28 tahun 2006 tentang Hari Bela Negara. Tentu ada hal yang mendasar dan sangat substansial yang membuat Presiden SBY menetapkan Keppres ini.

Jika dilihat dari kaca mata sejarah, kita harus tahu bahwa pada tanggal 19 Desember 1948 Mr. Syafruddin Prawiranegara mulai merancang dan membentuk suatu Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatra Barat. Keberadaan PDRI ini sangatlah penting bagi keberlangsungan Republik Indonesia saat itu yang secara teori salah satu prasyarat diakuinya eksistensi satu negara, yakni ada dan tegaknya pemerintahan.

Artinya ialah, saya melihat bahwa melalui peringatan hari bela negara ini pemerintahan secara tidak langsung memberi penghargaan serta pengakuan terhadap sumbangsih serta peran besar masyarakat Sumatera Barat dalam berjuang dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Selain itu, penetapan hari bela negara juga mengukuhkan bahwa sebuah sejarah penting yang terjadi dalam perjalanan kemerdekaan bangsa Indonesia ini. Peristiwa PDRI menunjukan betapa hebat dan gagahnya langkah-langkah yang telah diambil oleh para pendahulu kita di Sumatera Barat kala itu.

Namun, zaman kini telah berganti. Tentu lain pula tantangan dan bentuk bela negara yang harus kita perbuat untuk bangsa ini. Kunci utama dari bela negara ini ialah kesadaran. Kesadaran bahwa bela negara bukan hanya menjadi tanggug jawab TNI, kesadaran bahwa negara kita ini terdiri dari beribu-ribu pulau yang membentang dari Sabang hingga Merauke yang harus kita jaga seutuhnya, kesadaran bahwa kita hidup dengan beragam suku bangsa, agama, budaya dan etnis secara bersama-sama.

Jika kita mengacu pada UU No. 3 tahun 2002 dalam ayat (2) poin (d), dikatakan bahwa keikutsertaan warga negara dalam upaya bela negara tersebut dapat dilakukan melalui pengabdian sesuai profesi. Sebagai seorang pengusaha, kemauan untuk membuka lapangan pekerjaan juga merupakan bentuk sederhana dari bela negara. Sebagai guru, mencerdaskan kehidupan bangsa juga merupakan bentuk atau perwujudan nyata dari bela negara itu sendiri. Sebagai seorang dokter, mengabdikan diri demi mewujudkan masyarakat kita yang sehat dan obat-obatan yang terjangkau juga merupakan perwujudan dari bela negara. Sebagai seorang petani, menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan kita bersama juga merupakan bentuk nyata dari bela negara itu sendiri. Dan banyak lain halnya upaya serta bentuk bela negara yang bisa kita lakukan. Yang terpenting dari semua itu, ialah pemahaman kebangsaan dan rasa cinta tanah air yang mesti terus ditumbuhkan dalam setiap pribadi manusia Indonesia.

Tahun 2018/2019 ini ialah tahun dengan nuansa politik yang paling kentara. Setelah dihadapkan dengan pemilihan kepala daerah diberbagai kabupaten/ Kota, pada bulan April 2019 nanti kita juga akan mengahadapi pemilihan legislatif yang secara serentak juga dilakukan pemilihan presiden dan wakil presiden. Semangat bela negara menuntun kita, bahwa berbeda dalam hal pilihan politik tidaklah harus membuat kita terpecah belah. Karena pada dasarnya, politik bukanlah soal siapa yang kalah dan siapa yang menang, siapa yang terpilih dan siapa yang tidak terpilih, tapi politik harus bicara gagasan terkemuka dalam mencapai kesejahteraan bersama.

Terakhir, Mari kita sadari secara bersama. Bahwa Sumatera Barat memiliki peran penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan negara ini. Dan semangat tersebut akan terus kita warisi pada pemuda-pemudi minang kita pada hari ini. Menjaga keutuhan NKRI melalui profesi kita masing-masing, berbuat untuk NKRI melalui karya kita masing-masing. Jangan ada lagi perpecahan yang diakibatkan oleh perbedaan ras, suku, bangsa dan agama hingga perbedaan pilihan politik sekalipun.

Selamat Hari Bela Negara…. (*)

 

Loading...