Tak Berkategori  

Sumbar yang Sepi

Orang Minang gelisah saat orang lain merasa nyaman. Dia heboh tatkala yang lain diam. Orang telah selesai, dia akan ke akan saja. Hehe.

Tunggu, jangan naik esmosi dulu, kita ini mantan pemain bola dengan posisi libero, jadi sering disebut-sebut orang. Sekarang yang ada hanya kenangan, bayang-bayang samar tentang masa lalu. Hal ini yang dibaca kembali oleh Ibu Megawati.

Megawati menyoroti dua hal yang menurutnya mengalami perubahan, yaitu hilangnya tradisi ninik mamak dan minimnya tokoh nasional dari Sumbar. Bagaimana? Ada benarnya kan? Apa yang disebut mantan presiden itu, amat sering pula kita diskusikan di Ranah Minang, tapi diskusi saja.

Salah satu tradisi ninik mamak adalah musyawarah. Itu memang berubah di Sumbar. Sejak saisuak musyawarah itu sebenarnya ada di nagari-nagari, tak di nagari juga ada, tapi sekarang, ruhnya bukan lagi musyawarah seperti dulu. Sudah sama saja dengan di tempat lain.

Walau begitu, di sejumlah nagari musyawarah yang sesungguhnya, masih terpelihara dengan baik. Musyawarah yang kita kenal di kota-kota sekarang, telah digerogoti oleh sistem lain.

Kalau Anda mau melihat yang orisinil, datanglah ke nagari. Kapan datangnya? Itu yang saya kurang tahu.

Tradisi ninik mamak lainnya, sudah banyak yang tak dilaksanakan lagi, entah kalau LKAAM dan Bundo Kanduang, MUI, sekarang mau berjibaku. Agak berat kalau yang ini, sebab rumah gadang saja sudah banyak yang tersungkur ke tanah.

Ada yang dibangun baru secara massal, dijadikan obyek wisata, bukannya mengkapitalisasi untuk pembangunan kekayaan intelektualitas Minangkabau. Obyak wisata, oke, tapi pokok kaji, jangan lupa.

Minang terasa sepi tak ada tokoh, kata Bu Mega? Eee Yayai. Di sini hiruk dalam keheningan, hening dalam kehiruk-pikukan. Orang diam, dia heboh.

Orang heboh, dia tak ikut. Walau mantun, kehebohan intelektual, atau heboh soal nasionalisme membangun bangsa, agak kurang. Sipi-sipi tanggung, adalah agak sedikit, daripada tidak.

Yang heboh benar menyangkut politik lokal dan politik identitas, tak sudah-sudah, bagai ketiak ular, apalagi di grup WAG. Sumbar lindap pada ekonomi, menggebubu pada poliitk dengan sangkutan agama. Sabana talen kalau yang satu ini.

Soal “hening” kata Bu Megawati, akan kita jawab bahwa orang hebat bukan saja di bidang politik dan demokrasi, tapi sekarang putra-puteri Minang terbaik banyak di berbagai sektor.

Jawaban itu tak memuaskan suku bangsa lain. Maunya mereka, seakurat dan sebanyak apapun orang Minang di bidang profesional, mereka ingin, orang Minang itu muncul lagi sebagai keturunan Hatta, Yamin, Sjahrir, Nasir, Tan Malaka, Hamka, Rasuna Said, Rahmah el Yunusiyyah, serta sederatan nama panjang lainnya. Mereka minta itu, tapi tak kita beri.

Kita lantas mengelak-ngelak, zaman sudah berubahlah, banyak orang Minang hebat di berbagai Bidanglah. Indak itu doh.
Kalau ke sana tembaknya, memang belum. Sabalah sabanta, sedang dicetak, mana tahu bisa ada pada 2030.

Karena ada benarnya juga Megawati, maka disebutlah di sini bahwa pernyataan beliau akan dijadikan bahan introspeksi. Itu saja, namun tindaklanjutnya, belum ada. Atau takkan ada.

Rasanya tidak akan ada tindak lanjut, makanya hambar pusar saya, dingin ubun-ubun, mengingat, risau semacam itu, akan hanyut dihalau waktu.

Kerisauan Megawati, hampir disuarakan semua tokoh dan orang terpelajar di seluruh Indonesia. Sejak doeloe.

Yang paling berpengaruh pernyataan Gus Dur yang bilang, “Minang tinggal kelabang” Itu sudah lama, saking lamanya dicari di google, sudah tak ada. Atau oleh saya yang tak bersuara. Sejak itu, tak ada perbaikan signifikan. Juga tidak ada program yang dibuat pemerintah di sini.

Tapi, sebenarnya, ini bisa jadi urusan pemerintah, bisa tidak. Gerak awalnya dalam keluarga, komunal kecil masyarakat nagari, baru kemudian provinsi. Yang paling penting, adalah talenta dan keinginan individu. Mana kita tahu ada talenta tiap orang.

Orang hebat di pentas demokrasi dan akhirnya jadi negarawan mestilah lahir dari Sumbar dalam tahun-tahun mendatang, jika tidak, akan marasai juga kita kena tagih terus.

Maunya anak bangsa ini, orang Minang jugalah hendaknya. Kita anggap enteng saja menanggapinya. Apa boleh buatlah, apa yang akan terjadi sajalah lagi, ada alasan yang bisa dipakai, “nagari mode ko, banyak nan kadipikian mah.” Hehehe…

Maunya Buk Mega? Tentu PDIP meraih suara besar di Sumbar. Itu yang belum, atau tidak. Tidak akan, kata kawan saja. Mana bisa, kata yang lain. Ini panjang pula kaji nya. Nantilah dulu. *