Tak Berkategori  

Sumpit Beras Rakyat Sudah Kosong

Khairul Jasmi

Seusai Shalat Zuhur, ratusan kaum ibu bermukenah datang mengambil bantuan dari dermawan, lalu menggendongnya ke rumah masing-masing. Ini bukan rembulan, tapi beras, makanan pokok itu.

Lalu seseorang yang tak punya android berkirim SMS kepada saya, “Tarimo kasih, bareh nan diagiah tu alah ditanak, kami sadang babuko kini.”

Ia melaporkan beras itu sudah ia tanak dan sudah dinikmati saat berbuka.
Ibu-ibu Minangkabau, lama menunggu beras bantuan pemerintah tapi belum kunjung tiba. Putih mata mamandang, hampir tiap hari. Kepala desa atau walinagari, ditanya tiap sebentar, tak tentu yang akan ia jawab. Di Jawa rakyat menumpahkan kekesalannya lewat video, kemudian viral.

Beras adalah inti masalah, tanpa beras berhari-hari, bisa muncul kerusuhan. Saya membaca hal itu, maka kemudian, kepada relasi saya minta kerelaannya untuk bersedakah atau berzakat berupa beras atau uang. Uang itu akan dibelikan beras dan dibagi-bagi, tiap warga ada yang dapat 10 kg ada yang 7 kg. Beras itulah yang dibawa pulang oleh ibu-ibu bermukenah tersebut.

Tak mungkin tiap orang akan bisa menyampaikan terima kasih kepada para dermawan itu, maka lewat tulisan ini saya sampaikan berikut rasa syukur mereka. Beras itu, sekitar 4 ton. Ya kira-kira sebanyak itulah, sebab saya tak cakap berhitung.

Waktu kecil saya pernah merasakan ibunda tak ada beras di rumah. Maka dengan langkah cepat, beliau menghilang entah kemana. Kembali sudah membawa beras. Kelak saya tahu, beras itu dipinjam pada orang lain.

Tentu saja beras sekitar 4 ton itu dibagi-bagi di beberapa tempat tidaklah cukup, itu hasil WA saya kepada beberapa orang. Saya berharap, setelah ini akan ada yang bermurah hati, menyalurkan untuk warga miskin, entah lewat siapa saja.

Seorang ibu, seketika menerima beras ini, air matanya bercucuran. Tak tahu kenapa ia menangis, terharu, sedih atau ingat sesuatu di masa lampau. Seorang pria, bergegas menanggul berasnya, berterima kasih kepada saya dan melambai.

Semua itu, adalah berkat orang-orang dermawan. Di antara mereka, kadang tak tahu zakatnya hendak disalurkan kemana.

Sebenarnya tak hanya beras, tapi sebelum ini, Alat Pengaman Diri (APD) dari berbagai pihak didapat oleh kawan-kawan saya di WAG melalui penggalangan dana. Para dermawan tak mau disebutkan namanya. Kepada saya juga dititipkan 500 APD yang harganya mahal itu.

Corona dan kedermawanan
Negara kita miskin! Korupsi banyak pula, pemimpin ada pula yang tak benar. Uang menumpuk di puncak piramida. Keluh-kesah semacam itu, seharusnya dihentikan sejenak. Sekarang saatnya membantu orang yang tak punya. Apa hendak dikata, saya masih menyaksikan di beberapa di WAG, berketuntang mempostingkan kebencian demi kebencian kepada penguasa. Mengeritik setajam silet. Diminta benar menulis di media umum arus utama, ia tak berani. Pejabat juga demikian, bekerja lambat, jauh tinggal oleh janji yang diberikan. Contohnya beras itu, tak datang-datang juga.

Doeloe di tiap rumah di Minangkabau ada namanya ‘bareh saganggam’ yaitu segenggem beras dimasukkan ke dalam tabung. Segenggam beras itu diambil dari alokasi bertanak tiap hari. Sebelum bertanak, diambil dulu segenggam.Tak mengurangi takaran makan sekeluarga. Tatkala masa pencaklik tiba, maka beras segenggam itu sudah terkumpul banyak, lalu diberikan pada orang miskin. Tiap rumah seperti itu.

Kini sudah tak demikian, jika ada hanya segelintir. Ketika corona bersihamarajalela begini, maka diperlukan tindakan kedermawanan lebih, guna mendampingi pemerintah yang terpaksa lambat karena birokrasi.
Saya menyaksikan banyak dermawan yang berbagi, diam-diam, tak memerlukan pemberitaan. Kalau perusahaan, seharusnya diberitakan, karena itu bagian dari CSR perseroan tersebut. Wardah, adalah sebuah contoh perusahaan besar yang menyumbang besar pula.

Perlu banyak
Rakyat butuh beras yang banyak, sebab mereka sudah tak bekerja. Siklus ekonominya dibangun pagi hari dan berakhir senja. Besok dibuat lagi. Kini semua terhenti, maka diperlukan bantuan. Sebenarnya kinilah saat yang tepat bagi pemerintah membalas budi rakyat atau nenek moyang rakyat Indonesia.

Dulu. Dulu sekali, ketika bangsa ini menggasak penjajah, diperlukan prajurit dan pahlawan. Pejuang-pejuang itu perlu makan, maka pasokan makanan diberikan kaum ibu dengan nasi bungkus. Nasinya hangat-hangat. Kaum ibu juga merelakan anak bujangnya pergi ke medan perang. Tak terbilang dan tak pernah mereka hitung. Itu saja sampai sekarang tak terbalas. Belum lagi zaman krisis, yang terbaru 1998, ketika sebagian rakyat Minangkabau merenggutkan cincin emasnya lalu menyerahkan pada pemerintah. Tak usah disebut yang lain.
Maka siapa saja sekarang yang sedang menikmati kemerdekaan ini, seharusnya menolong rakyat sekarang pula. Bagaimana kondisi rakyat miskin sesungguhnya? Sumpit beras saja yang masih ada, isinya kosong. Lupakan dulu soal lauk-pauk.

Dan corona telah mendera kita sejak 2 Maret, Sumbar sudah PSBB, segala tak boleh sekarang. Sesuatu yang dilarang harus diikuti oleh sesuatu yang bisa membuat orang yang dilarang itu patuh. Apa itu? Beras! (*)