oleh

Suplai Air ke Ibu Kota Limapuluh Kota Terganggu

LIMAPULUH KOTA – Masyarakat di beberapa nagari di kawasan Ibu Kota Kabupaten (IKK) Limapuluh Kota mengeluhkan suplai pasokan air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ke rumah-rumah penduduk.

Pasalnya dalam beberapa hari belakangan, pasokan air itu dilaporkan mengalami gangguan. Air PDAM yang sehari-hari dipakai masyarakat untuk mandi, mencuci dan minum tidak dapat digunakan karena tidak mengalir sama sekali.

“Sudah tiga hari ini suplai aliran air PDAM bermasalah dan tidak mengalir. Kita tidak bisa mandi atau mencuci baju. Tidak tau pula awak apa penyebabnya. Karena belum ada pemberitahuan resmi dari pemerintah kabupaten atau PDAM,” ujar Rina Anggraini, seorang ibu rumah tangga warga Nagari Koto Tuo, Kecamatan Harau, kepada wartawan, Minggu (15/9).

Kondisi yang terjadi itu sontak membuat warga yang sehari-hari bergantung kepada air PDAM menjadi kelimpungan. Sebab, bak mandi atau kran air yang sedianya dipakai untuk kebutuhan MCK kini mengalami kekeringan. Sebagai antisipasi kebutuhan air, sejumlah warga mengaku terpaksa meminta air ke rumah penduduk lain yang memiliki sumur atau sumur bor.

Tak hanya Rina, keluhan serupa turut dilontarkan Muhammad Mansur, warga Jorong Ketinggian, Nagari Sarilamak. Menurut bapak tiga anak yang sehari-hari berdagang itu, sebelum putus total aliran suplai air PDAM di Jorong Ketinggian sempat mengalami perubahan warna menjadi keruh.

“Pada Kamis (12/9) lalu sebelum putus total, warna airnya sempat keruh seperti air tebu. Aromanya juga tidak sedap. Sehingga tidak bisa dipakai buat mandi atau keperluan lain. Kabarnya ada perbaikan jaringan, tapi kita belum dapat informasi pastinya. Mudah-mudahan segera normal kembali,” harapnya.

Rata-rata warga yang memakai air PDAM menyebut, pemutusan air oleh pihak PDAM sangat mengganggu aktifitas sehari-hari. Air PDAM dilaporkan tidak mengalir di sejumlah nagari sekitar kawasan IKK. Nagari itu antara lain meliputi Sarimalak, Tarantang, Koto Tuo, Batu Balang dan Bukik Limbuku.

Padahal, warga mengaku tidak pernah absen membayar kewajiban retribusi sesuai pemakaian, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp300 ribu perbulan. “Kalau kita tidak bayar atau disubsidi, mungkin tidak apa-apa kadang mati dan kadang hidup. Air itu kebutuhan pokok, mau cebok pakai air, mau mandi pakai air, piring kami di rumah sudah sudah tidak dicuci gara-gara air mati ini,” keluh salah seorang warga di Tanjung Pati.

Sementara Direktur PDAM Limapuluh, Kota Zulbadri yang dikonfirmasi melalui telepon genggamnya, Minggu (15/9) siang, belum bisa dihubungi, lantaran nomor tersebut tidak aktif. Kantor PDAM di Kawasan Ketinggian Sarilamak, juga dikabarkan tutup pada hari libur. Namun, menurut informasi sejumlah masyarakat di Kecamatan Harau, putusnya aliran air PDAM diduga disebabkan karena adanya pengerjaan perbaikan jaringan dan saluran pipa pada sumber air PDAM di Nagari Harau, tepatnya di Jorong Landai. (bule)

Loading...

Berita Terkait