Tak Berkategori  

Survei: Masyarakat di Negara Maju Lebih Stres dari Negara Berkembang

Ilustrasi (okezone.com)
Ilustrasi (okezone.com)
Ilustrasi (okezone.com)

JAKARTA – Hasil survei indeks kesejahteraan kota- kota di Asia Pasifik yang dilakukan oleh perusahaan finansial multinasional MasterCard menunjukkan, masyarakat di kota-kota negara maju lebih stres daripada masyarakat di kota-kota negara berkembang.

“Asumsi yang sering muncul di masyarakat ialah bahwa perkembangan ekonomi mengarah kepada berkurangnya tekanan keuangan, keluarga, dan pekerjaan,” kata Group Head Communications MasterCard Asia Pasifik Georgette Tan dalam siaran persnya.

Namun, ujar Georgette Tan, sudah jelas dipaparkan dalam Indeks Kesejahteraan Kota-kota di Asia Pasifik dari MasterCard menunjukkan hasil masyarakat di negara maju lebih merasa sangat berada di bawah tekanan, baik di tempat kerja maupun di rumah.

Hal tersebut seiring dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi di negara maju, besar kemungkinan hal tersebut berdampak pada tingkat optimisme terhadap prospek pekerjaan.

“Apabila Anda tidak merasa senang dengan tempat bekerja Anda saat ini dan di luar sana hanya sedikit pilihan pekerjaan yang tersedia, kemungkinan Anda akan merasa lebih tertekan,” katanya.

Tekanan pekerjaan dan keuangan tersebut merupakan pemicu dari tekanan keluarga, sehingga angka-angka tersebut akan terlihat saling berhubungan.

Namun, harus dicatat bahwa masyarakat secara keseluruhan, baik di kota-kota negara berkembang maupun negara maju tetap positif terhadap kesejahteraan mereka.

“Kesempatan dan kualitas hidup harus terus meningkat di seluruh kota di Asia Pasifik jika mereka ingin terus tumbuh dan berkembang,” katanya.

Survei tersebut mengukur hampir 9.000 orang di 33 kota di 17 negara di Asia Pasifik dengan mengukur tingkat kesejahteraan secara keseluruhan terhadap empat komponen, yaitu pekerjaan dan keuangan, keamanan dari ancaman, kepuasan, dan kesejahteraan pribadi.

Hasilnya, kota-kota di negara maju mendapatkan skor yang relatif lebih rendah dari rata-rata seperti Tokyo, Seoul, Perth, dan Taipei.

Sedangkan kota-kota di negara berkembang rata-rata mendapatkan skor yang relatif lebih rendah dari rata-rata seperti Manila, Ho Chi Minh City, Bangkok, dan Delhi.

Sementara itu, masyarakat kota Jakarta tercatat sebagai peraih skor 72,1 atau tertinggi kedua setelah Bangalore (India/73,2), sebagai kota yang masyarakatnya dinilai memiliki indeks yang paling positif.(aci)

sumber:antara