Syekh Abdullah al Minangkabawi: Ahlaan Wahsahlaan

Laporan Khairul Jasmi dari Tanah Suci

Syekh Abdullah al Minangkabawi (ist)

Saya terlambat, cucu Ahmad Chatib al Minangkabawi ada di Medinah, sementara rombongan sudah berhari-hari di Makkah. Meski begitu, saya dapat nomornya dari dua ustad sekaligus.

Pada 14 Agustus saya coba kontak dan memperkenalkan diri dan saya postingkan kulit buku biografi kakeknya. Sang cucu Syekh Andullah al Minangkabawi menyahutinya.

Saya berkirim pesan dengan bahasa Indonesia, Syekh menjawab dengan bahasa Arab. Saya kirim pula bahasa Arab, dijawab dengan bahasa yang sama. Abdullah pernah ke Padang tatkala Pemko mengadakan pertemuan ulama tiga benua. Waktu itu, saya melihat videonya berbicara soal ia keturunan Minang.

Tatkala berada di Tanah Suci saya malah ingin sekali berjumpa. Untung kemudian Ustad Mulyadi Muslim dan Ustad Safar memberi nomor kontak.

“Ahlaan wasahlaan bikum,” kata Syekh kepada saya diiringi beberapa doa, seperti, “Semoga Tuhan memberkatimu dan semoga Allah membalas kebaikanmu.”

Tentu tak banyak yang bisa diperbincangkan karena kendala bahasa. Meski begitu saya sudah berusaha.

Abdullah adalah cucu kontan dari Syekh Ahmad Chatib al Minangkabawi, pria Agam yang ke Makkah pada usia 11 tahun itu. Abdullah adalah kaki Minangkabau di Tanah Suci, yang ia sendiri justru bangga jadi bagian dari suku kita. Tentu saja saya tak bisa ziarah ke makam kakeknya karena di Timur Tengah, kuburan memang tidak diberi nama.

Kakeknya

Achmad Khatib al Minangkabawi, ke Makkah pada usia 11 tahun pada 1871. Lahir 26 Mei 1860. Ia berasal dari Koto Tuo, Ampek Angkek, Agam. Meninggal di Makkah 13 Maret 1916.

Bermukim di Makkah sampai usia 15 tahun kemudian balik ke Agam. Dua tahun kemudian calon ulama ini pergi lagi ke Makkah. Di Tanah Suci ia terus belajar. Menikah di sana dan memiliki 3 orang anak. Semua pria dan semua diplomat.

Murid-muridnya banyak dari Indonesia. Antara lain seperti ditulis wikipedia: Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) ayah dari Buya Hamka; Syaikh Muhammad Jamil Jambek, Bukittinggi; Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, Candung, Bukittinggi, Syaikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang, Syaikh Abbas Qadhi Ladang Lawas Bukittinggi, Syaikh Abbas Abdullah Padang Japang Suliki, Syaikh Khatib Ali Padang, Syaikh Ibrahim Musa Parabek, Syaikh Mustafa Husein, Purba Baru, Mandailing, dan Syaikh Hasan Maksum, Medan. Tak ketinggalan pula K.H. Hasyim Asy’ari dan K.H. Ahmad Dahlan, dua ulama yang masing-masing mendirikan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Ahmad Khatib adalah tiang tengah dari mazhab Syafi’i dalam dunia Islam pada permulaan abad ke XX. Ia juga dikenal sebagai ulama yang sangat peduli terhadap pencerdasan umat. Imam Masjidil Haram ini adalah ilmuan yang menguasai ilmu fiqih, sejarah, aljabar, ilmu falak, ilmu hitung, dan ilmu ukur (geometri).

Dengan cucu khatib dan imam besar Masjidil Haram itulah saya berkomunikasi meski tak banyak, tapi jadi jugalah dari pada tidak. Sayang hanya via WA, jika pun bertemu tak tentu pula yang akan saya sebut, kecuali ada penerjemah. Kabarnya sedikit-sedikit Abdullah bisa berbahasa Indonesia.

Kakeknya imam besar Masjidil Haram pertama yang non Arab. Indonesia kerek dibuatnya. Tali darahnya di Saudi kini tumbuh menjadi orang hebat. Beliau yang pertama dan mungkin yang terakhir karena pemerintah Saudi memutuskan, imam Masjidil Haram harus warga Arab. (***)

 

Loading...