oleh

Tak Ada Daerah Steril dari Paham Radikalisme

PADANG – Saat ini tak ada daerah di Indonesia yang steril dari bahaya paham radikalisme dan terorisme yang mengerus nasionalisme. Apalagi dengan semakin berkembangnya teknologi informasi semacam media sosial, masyarakat khususnya generasi muda harus mewaspadai misi cuci otak yang digerakkan kelompok teroris.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Suhardi Alius dalam kuliah umumnya, Kamis (22/8) di kampus Univesitas Andalas (Unand).

Dengan semakin canggihnya teknologi, yang saat ini semua orang sudah menggunakan gadget untuk mencari informasi dan berkomunikasi, sangat penting dilakukannya resonansi kebangsaan.

“Data 2018, ada sebanyak 415 juta masyarakat Indonesia yang memiliki chips seluler. Ini memperlihatkan sudah hampir semua masyarakat memiliki akses untuk berselancar di dunia maya, dengan segala macam informasi yang tersedia. Dunia berada dalam genggaman. Tanpa kemampuan literasi, filter dan verifikasi, media sosial bisa merusak kita, mengerus nasionalisme,” kata Suhardi.

Generasi muda sebagai sosok pemimpin masa depan, kata Suhardi, harus bijak dan arif dalam memanfaatkan bermacam teknologi dan informasi yang ada di zaman modern ini. Apalagi mahasiswa baru, yang menurutnya mudah disusupi oleh pihak-pihak yang membawa misi berbau radikalisme dan terorisme, yang membuat generasi muda terinspirasi menjadi teroris.

“Saat ini kita lengah. Reformasi kebablasan. Budaya asing begitu mudahnya masuk. Hal ini harus disikapi dengan mengembalikan kultur asli Indonesia itu sendiri,” katanya.

Paham radikalisme, kata Suhardi, mampu menimbulkan efek negatif dan positif. Negatifnya, paham ini bisa menyuburkan sikap intoleran, anti Pancasila, anti NKRI, menyebabkan disintegrasi bangsa, dan penyebaran paham takfiri atau mudah mengkafir-kafirkan orang lain.

Dalam kuliah umum yang berjudul “Resonansi Kebangsaan dan Bahaya serta Pencegahan Paham Radikalisme dan Terorisme”, Suhardi juga menyebut, radikalisme tidak boleh mengasosiasikan dengan penampilan seseorang, masalah paham ini adalah tentang mindset, bukan kostum. (Wahyu)

 

Loading...

Berita Terkait