Tak Takut, Lansia Pun Antusias Divaksin

×

Tak Takut, Lansia Pun Antusias Divaksin

Sebarkan artikel ini

Sebenarnya, lanjut Hadril, di luar lingkaran pertemanan dan kenalan sesama lansia yang merupakan nakes, Hadril juga mengenal banyak teman yang tidak bekerja sebagai nakes. Dari kenalan-kenalan itu banyak yang sangat takut divaksin. Ada juga yang menjadi semakin ngeri karena terpengaruh berita bohong (hoaks).

“Kalau saya lihat-lihat, alasan mereka tak mau divaksin itu karena takut mati. Padahal dengan umur yang sudah tua-tua begini urusan mati itu sudah dekat. Ya, kita tinggal menuruti surat ketetapan Tuhan, kapan kita mati,” ujarnya.

Lagi pula, tegas Hadril, sejauh ini sama sekali belum ada kasus yang membuktikan adanya lansia yang mati karena divaksin. Justru yang ada adalah lansia yang meninggal dunia karena terinfeksi Covid 19.

“Sudah jelas-jelas lebih baik kita yang tua-tua ini divaksin. Jadi kita bisa lebih aman dari terinfeksi covid 19,” ujarnya.

Apalagi, tambah dia, orang-orang tua lansia pada umumnya memiliki penyakit bawaan (kormobid). Ini justru lebih berbahaya jika tidak divaksi. Faktanya, lanjut Hadril, orang-orang dengan penyakit bawaanlah yang akan mengalami dampak terparah saat terinfeksi Covid 19. Meninggal dunia sangat dekat terjadi pada orang-orang dengan kormobid. “Apalagi semakin tua daya tahan tubuh tidak sekuat saat muda. jadi vaksinasi itu justru membuat para lansia jadi lebih aman,” ujarnya.

Faktanya, memang benar bahwa para lansia tidak lebih beresiko dibanding kalangan muda terkait efek samping vaksinasi. Tua muda, memiliki potensi yang sama terhadap efek samping dari vaksinasi.  “Sejauh ini tidak ada efek samping serius pada orang-orang yang telah divaksinasi. Jika pun ada itu hanya efek samping ringan. Dan faktanya lansia dan anak muda posisinya sama. Tidak ada yang lebih beresiko terkena efek samping,” ujar Ketua Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Sumbar, Raveinal. Sejauh ini, lanjut, Reivinal tidak ada yang mengalami efek serius setelah divaksin, baik itu dari kalangan muda ataupun lansia.

Namun, Reiveinal mengatakan memang ada himbauan dari pemerintah pusat untuk lebih teliti berhati-hati dalam proses vaksinasi pada lansia. Penyebabnya bukan karena vaksin lebih beresiko pada lansia. Namun karena sebagian besar lansia pada umumnya memiliki penyakit bawaan (kormobid). Seperti diketahui ada beberapa orang yang tidak boleh divaksin atau harus ditunda untuk divaksin jika memiliki kondisi penyakit tertentu. “Jadi lebih berhati-hatinya pada kondisi kormobid, bukan pada resiko vaksinnya. Vaksin sudah dinyatakan BPOM aman untuk lansia,” tegasnya.

Sejauh ini, proses vaksinasi memang masih dilaksanakan di Sumbar. vaksinasi untuk lansia nakes masih dilaksanakan. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumbar, Arry Yuswandi memparkan,hingga Kamis (25/2) vaksinasi di Sumbar sudah mencapai angka 94 persen untuk vaksinasi SDM kesehatan. Sementara itu untuk tahap II masih 51,67 persen.  “Sejauh ini sudah banyak pula lansia yang divaksin.Prosesnya akan masih terus kita lanjutkan,” tegas Arry.

Dinkes Sumbar, tambah Arry menargetkan vaksinasi untuk nakes bisa terlaksana 100 persen. Namun untuk masyarakat umum vaksinasi ditargetkan dengan lebih realistis yakni 85 persen dari total jumlah penduduk yang harus divaksinasi. (titi)