Telah Hadir Museum Inyiak Candung

BUKITTINGGI – Rumah di pinggir jalan itu, adalah kenangan. Di rumah itu, Syekh Sulaiman Arrasuli pernah menerima tamu vip, Bung Karno. Sekarang jadi museum.

Inyiak Canduang, demikian ulama besar ini disapa, telah lama pergi. Tatkala meninggal 1 Agustus 1970 dalam usia 99 tahun, Sumbar berduka. Gubernur Harun Zain memerintahkan agar dikibarkan bendera setengah tiang selama sepekan.

Untuk menjemput segala hal tentang pendiri Perti ini, maka kediamannya yang disebut Rumah Gaduang itu dipermak sana-sini. Kini di halamannya dengan gamblang bisa dibaca sebuah plang nama: Museum Syekh Sulaiman Arrasuli.

Ini memperkaya bahan untuk Syekh Sulaiman Arrasuli sebagai pahlawan Nasional. Kenapa rumah itu? Di sanalah basecamp bagi aktivitas inyiak Candung dijadikan museum Syekh Sulaiman Arrasuli. Tentu saja juga di MTI yang terpaut tak jauh dari sana.

Rumah gaduang yang berlokasi Simpang Gadung Buya, Jl. Syekh Sulaiman Arrasuli Jorong Lubuak Aua Nagari Candung Koto Laweh Kecamatan Candung Kabupaten Agam itu sudah disepakati oleh pihak yayasan bersama keluarga Syehk Sulaimana Arrasuli sebagai museum.

Hal itu dikemukakan Wakil Rais al-Madrasah Bidang Akademik dan Mudir Ma’had Aly Syekh Sulaiman Arrasuli DR.Zulkiflli M saat ditemui Singgalang di pondok pasantren MTI Candung beberapa waktu lalu.

Menurutnya, proses pendirian museum itu sudah dimulai sejak tahun 2019 lalu, namun finalisasinya baru selesai pada pertengahan Septeber 2021.

Sedangkan latar belakang pendirian museum itu didasari atas kegelisahan yang membuncak baik dari keluarga maupun alumni dan masyarakat setempat.

Sebab banyak generasi muda yang sudah tidak tahu dan tidak kenal lagi catatan catatan sejarah yang pernah di perbuat dan diperjuankan oleh Nyiak Candung sebutan untuk Syekh Sulaiman Arrasuli semasa hidupnya. Baik dibidang pendidikan maupun perjuanganya untuk bangsa dan negara Indonesia.

Kemudian banyak peninggalan peninggalan dari Inyiak Candung itu belum diketahui keberadaanya seperti dokumen penghargaan sebagai perintis kemerdekaan dari Presiden RI H.M Muhammad Soeharto tahun 1969.

Karena itulah muncul keinginan dari yayasan dan keluarga untuk menjadikan rumah gaduang itu sebagai museum Syekh Silaiman Arrasulli”, ujarnya.

Menurut Zulkifli, dipillihnya Gaduang buya untuk Museum itu merupakan sebagai wujut nyata untuk menyimpan barbagai peninggalan karya karya Inyiak Candung yang masih ada.

Foto Museum Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Candung) bersama koleksi yang ada didalamnya.(Asrial Gindo)

Karya karya dan peninggalan itu, selain yang disimpan oleh keluarga juga dihimpun dari berbagai daerah seperti karya beliau yang disimpan di perpustakaan leiden university Belanda , maupun larya karya dan dokomen yang disimpan oleh para alumni atau murid murid beliau.

Saat ini sudah ada puluhan kitap hasil karya inyiak candung yang tersimpan di museum itu termasuk pakaian tongkat. serta dokomen dokumen sejarah seperti foto foto sebagai bukti aktivitas yang dilakukan nyiak Candung termasuk saat beliau dipercaya sebagai ketua Mahkamah Syariah Sumatera tengah, dan aktivitasnya sebagai anggota kontituante.

Selain itu juga ada surat permintaan Inyiak candung kepada presiden RI.Ir Soekarno untuk dapat mengakri perang saudara antara tentara PRRI dengan tentara pusat dengan cara melakukan perdamaian karena akibat perperangan itu telah menimbulkan banyak penderitaan bagi masyarakat.

“Duplikasi surat itu juga tersimpan dengan baik di Museum itu,” ujarnya

Hanya saja beberapa dokomen yang sangat penting belum diketahui keberadaanya, seperti surat penghargaan sebagai salah satu tokoh perintis kemerdekaan yang diberikan oleh presiden RI HM Soeharto pada tahun 1969, Bendi bugih sebagai kendaraan kebangsawanan Inyiak Candung waktu itu serta kendaraan VW -Nya.

Selain itu ada pin bintang perak sebagai hadiah dari belanda atas pengabdianya lebih 30 tahun menyebarkan agama Islam di Minangkabau dan itu dituangkan didalam catatan prasati dimakam Inyiak Candung, namun dalam bentuk fisik bitang perak itu belum diketahui keberadaanya. Termasuk pin bitang sakura yang diberikan oleh jepang karena perjuangan dan kepiawaianya dalam berdiplomasi.

“Kita berharap jika ada pihak keluarga atau siapa saja yang menyimpan barang bersejarah itu untuk bersedia mengembalikanya untuk melengkapi koleksi di museum Syekh Sulaiman Arrasuli itu, kalau perlu diganti kita siap mengantinya”,ujar Zulkifki.

Selain itu dirumah gaduang itu juga dijadikan basecamp bagi aktivitas inyiak candung dalam penyebaran agama islam di minangkabau pada khususnya dan di nusantara pada umumnya.

Kenapa dekatakan basecamp, karena banyak aktivitas beliau yang dilakukan di rumah gaduang itu, bahkan presiden RI Soekarno juga pernah berkunjung ke rumah gaduang itu.

Murid Inyiak Candung juga pernah menceritakan bahwa Presiden Ir Soekarna pernah bertanya ke inyiak candung tentang batas wilayah Indonesia, apakah papua itu masuk ke dalam wilayah Indonesia. dan waktu itu Inyiak candung mengatakan bahwa Papua itu merupakan bagian dari Indonesia.

“Peristiwa itu terjadi di Rumah Gaduang itu,” tegasnya.

Selain itu masih banyak peranan lain yang dimaikan inyiak candung di rumah gaduang itu termasuk untuk menerima tamu tamu dari tokoh ulama seperti inyiak parabek.

Terkait pengusulan inyiak candung sebagai pahlawan nasional yang membutuhkan sebuah museum menurut Zulkifli itu bukan hal yang pokok dari pendirian museum itu.

Karena pendirian museum itu sesungguhnya sudah menjadi kebutuhan, namun seperti ungkapan masyarakat minang bagaikan bilalang dapat menuai, karena disaat adanya museum didirikan untuk mengabadikan catatan sejarah, sekaligus dengan adanya museum dapat dimamfaatkan untuk mendukung pengusulan Inyiak candung sebagai pahlawan nasional.

Ketua Yayasan Syekh Sulaiman Arrasuli. DR.Syukri Iska juga mengungkapkan keberadaan museum itu juga sebagai penguat untuk mewujutnya Inyiak Candung itu sebagai pahlawan nasional.

Karena dalam pengusulan pahlawan nasional itu juga disyaratkan adanya sebuah museum itu.Untuk itu pihak yayasan bersama keluarga telah mempersiapkannya.

Selain museum itu, yayasan bersama keluarga dan alumni sebelumnya juga sudah menggelar beberapa kali seminar nasional baik di Provinsi Sumatera Barat maupun di Jakarta dengan menghadirkan berbagai pakar sejarah, budayawan dan dari LIPI dan kementrian Sosial.

Kemudian tulisan tulisan baik hasil penelitian, tulisan lepas, dan tistimoni tentang kiprah beliau juga sudah disiapkan termasuk kapasitas beliau secara internal terhadap apa yang dilakukannya pada masa lampau itu sebagai indikator indikator beliau itu layak di jadikan sebagai paklawan nasional.

“Semua itu sudah disiapkan dan diserahkan ke Dinas Sosial Agam. dan kita berharap Dinas tersebuat dapat mempercepat prosesnya sehingga dapat ditindaklajuti ke provinsi hingga pemerintah pusat”,ujarnya Syukri Iska.(203)