Tak Berkategori  

Tentang Mobil Dinas dan Harapan Rakyat

Abel Tasman.(ist)

Video Ajo Busyet itu, viral. Ia sasek naik mobil innova. Dikira travel tak dinyana itu, mobil dinas gubernur Sumatera Barat.

Ceritanya menarik, menggelitik dan mungkin lucu. Kisah di video itu memberi pesan, gubernur kita ini sederhana dengan kendaraan biasa. Apakah kesan yang diharapkan itu sampai? Bisa jadi oke sangat, tapi bisa tidak alias meleset.

Sebagai kepala daerah yang memimpin 5,5 juta warga, Gubernur Mahyeldi berhak kendaraan dengan spesifikasi lebih tinggi. Namun, ia rendah hati. Tawadhuk. Kendaraan sekelas itu, cukuplah. Kata kawan akan lebih keren, gubernur bersepeda saja bekerja mengurus rakyatnya, sepertin satu kali (saja) waktu baru jadi walikota Padang.
Apa pun kendaraan gubernur, mewah atau murah meriah, akan tetap heboh. Ada yang heboh demi empati keberpihakan karena hidup lagi susah akibat pandemi. Ada heboh karena sebab kepentingan. Suka heboh adalah salah satu potensi andalan kita. Tak heboh, tidak lepas candu kita. Tak kita namanya. Kita-kita ini kan kita sama tahulah bagaimana kurenah masing-masing.

Memang begitulah kita. Di sisi lain, problemnya di Gubernur Mahyeldi sendiri. Ada info beliau kurang kaya literasi dan narasi. Minim pilihan diksi, abai semantik dan retorik. Agak longgar-longgar tanggung di nalar bahasa. Kabarnya juga tak tegas dalam komunikasi publik. Beliau orang surau, kata seorang kawan.

Kompeten
Tentu keliru menganggap Gubernur Mahyeldi tak punya kompetensi. Mahyeldi politisi paten dan kompeten. Dari tahun dua ribu empat, karir politiknya terus melesat hingga ke puncak kekuasaan Sumatera Barat.

Sungguh, Mahyeldi politisi hebat dan berbakat, di saat keringnya regenerasi kepemimpinan Sumatera Barat. Daya tariknya makin kuat dengan citra agamis dan kesalehan personal. Orang terpikat gambarnya menyandang sekarung beras. Dia bagai khalifah yang amat zuhud dan warak, Umar bin Khattab. Kaji kita waktu di surau dulu.

Namun, sehebat
-hebatnya tentu punya kekurangan yang juga mendasar. Sama juga dengan awak-awak ini.

Pak Gubernur kita ini memang tak akrab dengan metode berpikir filisofis epistemologis, memahami persoalan berbasis ilmu pengetahuan. Dia tampak tak punya imajinasi, gambaran atau narasi besar, Sumatera Barat ini akan seperti apa di masa depan. Dari pihak lain juga tak tampak, kecuali dalam WAG.

Tagline kampanyenya Untuk Sumbar Madani belum terlihat keunggulan dan kelanjutannya. Jika benar itu visinya, setidaknya, mukadimahnya sudah mulai berjalan. Atau ini hanya sekelebat angan yang dituang jadi sekadar slogan normatif pelengkap pencalonan.

Sebagai penguasa dengan otoritas penuh, beliau belum menunjukkan gagasan, daerah ini bagaimana hendak dia disain. Dia tak atau belum menguraikan ide terobosan. Belum pernah terdengar, sesuatu yang hendak diwariskan dalam hal kebijakan politik pemerintahan.

Padahal daerah ini dianugrahi Tuhan kekayaan beragam. Alamnya indah bagai lempengan tanah yang jatuh dari pinggir surga. Kebudayaannya cantik dan unik. Potensi warisan sejarahnya juga penuh mozaik. Manusianya berbakat besar dalam berpikir, tinggi minat keilmuan, menonjol dalam dunia logika, etika dan estetika. Segala anugrah ini tersia siakan.

Mahyeldi seperti tak punya waktu berpikir dalam, luas dan menjangkau jauh ke masa depan daerah. Belum berpikir mendasar dan mengakar. Jihadnya sebagai kepala pemerintahan masih tersendat. Ijtihadnyapun tak pernah dikemukakan. Kepemimpinannya fakir ide, minus gagasan dan miskin terobosan. Orang-orang di sekitarnya sedang terpana, belum membantu Pak Gubernur dengan ide-ide brilian, kecuali baru buat video. Ini bisa merusak image gubernur.

Enam bulan berlalu, matahari terbit seperti biasa. Harapan belum muncul. Tak impresif, tak berkesan. Akibatnya muncullah heboh terkait hal-hal kecil. Soal mobil dinas dan proposal sumbangan yang janggal dan memalukan. Makin bagarebeh tebeh lah jadinya.

Tak meringankan beban
Kinerja bawahannya di pemerintahan, yang ribuan jumlahnya tak meringankan beban. Entah mereka memang lemah atau gubernur belum/tak mampu melakukan konsolidasi dan determinasi. Atau bisa jadi, Mahyeldi lebih banyak dikendalikan kelompok kecil oligark amatiran yang jika memungut istilah Musfi Yendra, disebut Ring Piston.

Fenomena fakir ide tak hanya terjadi pada kepemimpinan Mahyeldi. Tapi, menimpa hampir semua lapis kepemimpinan, segenap institusi dan kelompok di ranah ini. Fakir ide sudah jadi endemi, juga terjadi di perguruan tinggi. Kampus tak lagi jadi reservoir, mata air ide, gagasan dan pemikiran besar yang mencerahkan secara intelektual.

Perubahan hanya bisa mewujud dengan ide tentang perubahan. Perubahan besar selalu diawali dengan pemikiran besar. Tanpa ide dan pendayagunaan fungsi akal dengan optimal, kita hanya jadi makhluk sejarah tanpa kemuliaan.

Kegundahan kita akan jalannya sejarah daerah ini hari ini, mungkin mirip dengan kegundahan Bung Hatta dulu. Sang Proklamator Tercinta mengutip filsuf dan penyair Jerman Friedrich von Schiller,”Abad besar telah lahir. Tapi ia menemukan generasi kerdil.”

Penulis adalah Budayawan, anggota DPRD Sumatera Barat 2009-2014, pernah menjadi Penasehat Majlis Hikmah PW Muhammadiyah.(***)