Tak Berkategori  

Terlibat Perdagangan Satwa, Ditreskrimsus Polda Riau Pidanakan Lima Tersangka

Inilah lima tersangka yang terlibat perdagangan satwa dilindungi di wilayah hukum Polda Riau.(mat)

PEKANBARU – Ditreskrimsus Polda Riau saat ini tengah berupaya mempidanakan lima pria (3 kasus berbeda) terkait dugaan tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Lima pria yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu adalah IR (45) dan ER (31) KIS (55), RAF (30) dan AH (28).

Kapolda Riau Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi melalui Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto mengungkapkan bahwa lima tersangka itu berada dalam 3 kasus terpisah.

Kasus pertama dengan tersangka IR (45) dan ER (31) ditangkap pada 21 Juni 2021 karena kedapatan menyimpan dan akan menjual sisik satwa Trenggiling.

“Dua tersangka ini ditangkap di Jalan Lubuk Telongo Desa Batu Gajah, Pasir PenyuIndragiri Hulu Riau,” katanya.

Selanjutnya, pada 2 Juli 2021, Polda Riau kembali menangkap AH (28).

“Kita tangkap pada 2 Juli 2021 karena kedapatan memiliki dan akan menjual bagian tubuh satwa yang dilindungi yaitu berupa 5 Paruh Burung Enggang dan satu kuku Harimau. Ia ditangkap di jalan HR. Soebrantas, Kota Pekanbaru,” katanya.

Sementara itu, tersangka KIS (55) dan RAF (30) yang merupakan warga Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat ditangkap 12 Juli 2021 karena memperniagakan 8 ekor satwa diliundungi jenis Kukang.

“Dua warga Sumbar ini kita tangkap di parkiran Rumah Sakit (RS) Eka Hospital Jalan Soekarno Hatta, Kota Pekanbaru. Pengakuan tersangka, satwa itu berasal dari hutan yang berada di tanah Datar,” ungkapnya.

Ditempat yang sama Dirreskrimsus Polda Riau AKBP Ferry Irawan mengatakan bahwa para tersangka akan dijerat dengan Pasal 21 ayat (2) huruf a Jo Pasal 40 ayat (2) UU RI No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 55 KUHPidana.

“Dihimbau kepada masyarakat untuk menjaga dan melestarikan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya dengan melindungi satwa-satwa liar yang dilindungi dari penjualan, perburuan atau pembunuhan terhadap satwa yang dilindungi. Agar kita dapat mewariskannya kepada anak cucu kita.” ungakpnya.(rahmat)