Tak Berkategori  

Tiaraap…!

Harris Effendi Thahar (ist)

Harris Effendi Thahar

Kalau disimak berita serangan covid-19 akhir Agustus ini, cukup membuat kita rakyat Sumatera Barat ketar-ketir. Makin hari makin bertambah banyak saja yang terpapar, termasuk dokter dan pekerja medis. Dua minggu sebelumnya terkonfirmasi positif 1.800-an, Sabtu kemarin menjapai 3.300-an secara nasional. Minggu pagi kemarin, di running text tivi terbaca: delapan orang dokter di Pasaman Barat, Sumatera Barat terkonfirmasi terinfeksi Covid-19. Sementara, jumlah kematian akibat Covid-19 secara nasional yang biasanya 50-an, kini sudah mendekati seratusan setiap hari.

Kalau saja tenaga medis dan para medis sudah banyak yang kena akibat tugas mulia mereka, maka semakin berkurang tenaga medis, semakin bertambah kencang laju pertambahan jumlah korban positif Covid-19. Kalau keadaan begini terus, akan tiba masanya tidak cukup tenaga medis. Sementara vaksin belum masak, masih mentah, mau diobat dengan apa? Minyak kayu putih? Sori bro, terbukti tidak mangkus.

Siapa yang salah? Sudah cukupkah pemerintah melalui gugus tugas penanggulangan covid-19 memberi penjelasan atau sosialisasi kepada masyarakat Indonesia yang bergam? Saya rasa jauh dari cukup. Malah seputar pandemik covid-19 semakin banjir istilah asing yang tidak dimengerti oleh masyarakat kebanyakan.

Hal ini justru dibuktikan oleh seorang peneliti asing (Hywel Coleman, Kompas 26/8/20) bahwa ternyata sebagian masyarakat yang disurveynya di Depok dan perbatasan kota Jakarta tidak paham dengan istilah-istilah: suspek, konfirmasi, PCR, bahkan PSBB. Ketika ditanyakan apa arti new normal kepada salah seorang pengemudi ojek daring tamat SMA, katanya normal kembali seperti biasa.

Responden survey Hywel adalah petugas satpam, pengemudi ojek, sopir pribadi, PRT, tukang kebun, karyawan toko, karyawan pabrik, ibu rumah tangga, dan beberapa orang penganggur karena PHK. Mereka ada yang berpendidikan SD, SMP, SMA, dan pernah kuliah. Menurut Hywel, rata-rata mereka pernah mendengar dan membaca istilah-istilah yang digunakan gugus tugas covid-19, tetapi hanya 50% yang agak paham artinya, meski meleset. Misalnya, ODP, amat beragam pemahaman masyarakat. Ada yang mengatakan sudah bergejala demam karena perjalanan dari luar daerah dan diisolasi dua minggu. Ada yang mengatakan sudah diperiksa tapi belum tahu hasilnya.

Bagaimana kondisi masyarakat kita di Sumatera Barat, atau di kota-kota utamanya? Di masjid kampus (FBS UNP)saya, sudah dua bulan terakhir menyelenggarakan salat Jumat. Sudah diberi pengumuman agar menjaga protokol kesehatan kepada jamaah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Suatu kali Jumat di awal Agustus saya ikut salat Jumat dengan menjaga jarak dengan jamaah kiri dan kanan. Memang tidak /belum diberi tanda di lantai, tapi umumnya jemaah mengerti dan patuh. Akan tetapi, ketika qamat, salat segera didirikan, seorang mahasiswa menyelonong di samping saya yang memang ada jarak sekitar 50 cm. Mahasiswa itu tanpa masker lagi. Sejak itu, saya berhenti menjadi jamaah masjid kampus saya.

Di masjid kami, Almuhajirin Komplek Wisma Indah III Parupuk Tabing, jarak jamaah diatur dengan tanda silang di lantai. Tiap pintu masuk ada tulisan, wajib pakai masker. Jika salat Jumat, yang tidak pakai masker salat di luar ruang utama, yakni di sayap teras kiri, kanan, dan belakang. Hal itu, Alhamdulillah dipatuhi jamaah.

Mengingat vaksin yang ditunggu-tunggu masih lama, tolonglah pihak pemerintah melalui gugus tugas penaggulangan covid-19 Sumatera Barat menerjemahkan istilah-istilah asing ke dalam bahasa Indonesia yang mudah dimengerti masyarakat, atau ke dalam bahasa Minagkabau. Tanda sosialisasi pemerintah tidak sampai ke akar rumput itu telah terbukti dengan susahnya penerapkan protokol kesehatan. Suruh pakai masker keluar rumah saja, masyarakat acuh tak acuh. Malah yang acuh tak acuh itu termasuk pula yang berpendidikan tinggi.

Begitulah, pagi tadi ada pemberitahuan di grup WA jamaah masjid kami yang mengatakan jumlah orang yang terkonfirmasi positif covid-19, termasuk di kelurahan kami. Tentu saja membuat kami anggota masyarakat yang tahu lokasi korban covid-19 itu khawatir dan cemas. Apalagi jamaah yang sudah banyak yang lansia. Ada seorang jamaah lansia bertanya,” baa usaho awak lai ketua?” “Tiaraaap…!” jawab ketua.