oleh

Tiga Hari Bersama Yamin, Meninggalkan Kita Semua

 

M. Yamin. (*)

I. 19/3/2019
Saya bertemu dengan Yamin setelah dari Lampung di Hotel Sahid Jaya diacara Seminar Publik tentang Pemberantasan Korupsi bersama KH. Ma’ruf Amin. Setelah Yamin memberi sambutan selaku Ketua Umum Seknas Jokowi, kami Duduk di satu meja dengan Dawai, don marut, yuli, marlin dan tumpak. Kami duduk satu meja ini juga kejutan karena dah lama gak kumpul satu meja para pengurus DPN Seknas.

Yamin seperti biasa berceloteh dengan renyak dan gaya khasnya. Cerita pengalaman lama tentang mendidik rakyat Cilacap untuk bagaimana tau melawan penguasa yang menindas haknya. Cerita ini disampaikan karena Yamin diminta oleh Sofie dari Duta Jokowi untuk jadi narasumber di giat Delta One di Bogor. Obrolan makin panjang hingga larut malam dan kami bubar keluar gedung dengan rame-rame jalan kaki ke parkiran. Yamin mengantar Sofie dan tidak biasa Yamin membuka kaca mobil dan melambaikan tangan.

II.
Tidak biasa kami bertiga, Yamin, saya dan Isma selama 3 hari berturut-turut pasca kembalinya Yamin dari Lampung, kami bisa berkumpul di kantor DPN di jalan Cirebon Menteng. Biasanya kami jarang bisa berkumpul di kantor pada saat menyambut Pilpres 2019. Yamin berkeliling di Jawa Barat, Banten dan berbagai daerah kainnya sebagai Ketua Umum Seknas Jokowi, saya di Jawa Timur, DKI Jakarta dan Lampung sedangkan Isma biasa mewakili kami untuk rapat-rapat organ relawan di ibukota dan kadang juga blusukan di DKI.

Setelah saling lapor dari perjalanan masing-masing, Yamin bilang “ada yg musti dirubah ded… dari strategi di lapangan untuk memenangkan Jokowi”. Saya jawab “strategi apa lagi yg mau dipake ? Rasanya semua cara udah dipake min…, keliling daerah kayak gasing sudah, dodok-dodok pintu ke pintu didesa sudah, berdiri dipinggir jalan n blusukan ke pasar-pasar tradisional dan mall bagi-bagi stiker ama kalander juga sudah. Bukan cuma seknas, hampir semua organ melakukan hal yg sama”.

Obrolan kami berhenti karena yamin menerima telepon dan lama-lama pembicaraan di telepon nadanya meninggi dan keras. Saya langsung memintanya untuk matikan hape dan sudahi ngomong dg orang yg gak jelas itu…! Obrolan berlanjut soal nasib Seknas setelah Pilpres 2019. Ternyata Yamin tetap berharap Seknas harus tetap ada jika Jokowi terpilih kembali. Saya jawab, “menangin Jokowi dulu lah, setelah menang baru kita ngomong lagi soal itu”. Yamin berhenti sejenak sambil menyemburkan nafas dengan panjang. Nampaknya ia menghendaki saya mendiskusikan dengan panjang soal seknas itu tapi saya tidak merespon.

Lanjut obrolan ke soal pendribusian APK ke berbagai daerah. Yamin setuju dg usulan saya dan isma membagi APK yg ada tapi minim ke daerah yg belum pernah menerima dan menyisakan APK untuk giat blusukan dibeberapa titik di DKI Jakarta yg sudah dijadwal. Kami berdua sempat evaluasi acara seminar publik di hotel Sahid yg ketua panitianya Isma. Saya perhatikan ia sangat seneng dengan acara itu dan mengapresiasi kerja isma dkk (padahal Yamin paling pelit mengapresiasi suatu giat). Kemudian saya pamit pulang duluan karena saya sadar diri dengan kondisi badan pasca kena stroke ringan.

III.
Hari Kamis, kami ketemu lagi masih di kantor DPN, ngobrol sambil nyeruput kopi ditemenin pisang goreng buatan bibi. Kami berdua berdiskusi ringan soal hobi baru yamin dengan mobil-mobil lama, sambil menunjukkan foto mobil lama yg sudah dimilikinya. “Loe punya hobi kayak gw aja ded, daripada hobi burung..” saya tertawa terbahak2 karena melihat mimik yamin yang sangat lucu ketika ngomong burung. Entah apa maksudnya dengan burung itu tapi kami ngobrol yang ringan itu dalam suasana yang nyaman.

Obrolan beralih ke soal hasil survei Litbang Kompas. Saya tanya ke yamin, “bagaimana seknas mensikapi hasil survei itu..?” Dengan gaya cengengesan yamin jawab,”litbang kompas itu kan bukan lembaga survei jadi gak perlu panik, cukup dijadikan referensi untuk mengevaluasi kerja seknas kedepan. Itulah pentingnya gw ngajak ngobrol elo kemarin soal atur strategi baru.” Saya bilang, “capek lah min.. diskusi soal strategi baru ditengah-tengah situasi logistik yang gak jelas ini”.

Ia menghela nafas dengan panjang, mungkin ia gak senang dengan jawaban saya.. ia pergi ke toilet gak lama ngobrol dengan siapa saya tau via telepon. Lagi-lagi suara obrolannya keras dan nadanya marah-marah. Saya datangi lagi dan minta untuk untuk mematikan hapenya. Tak lama yamin masuk lagi ke ruang rapat. Tiba-tiba Yamin bilang “2014 kita sudah sudah mengantarkan Jokowi jadi Presiden. Susah nyari orang baik untuk presiden, ded… jadi Seknas musti jadiin Jokowi presiden lagi walaupun kita belum tentu dapet posisi”. Itulah semangat luar biasa yang saya tangkap dari yamin untuk memenangkan kembali Jokowi sebagai Presiden di 17 April 2019 nanti.

Walaupun pernyataan terakhir yg mengatakan “walaupun kita belum tentu dapat posisi”. Saya baru ketemu jawabannya atas pernyataannya itu dari tulisan pendek yamin yg diposting dan disebar di beberapa WAG terakhir. Yamin pindah ke meja dapur ngobrol ama ucok (Imran Hasibuan). Tak lama ikut gabung ngobrol mantan dubes Vietnam. Jam 15.30 hape yamin berdering, diujung sana suara kawan Handoko, Sekjen Projo (kalau gak salah) mengingatkan Yamin untuk rapat di veteran karena pak moeldoko sudah menunggu. Yamin pun pamit dan masih mengingatkan saya untuk datang besok pagi untuk “melepas” rombongan seknas dan alumni UII yang akan berangkat ke Yogya menghadiri Deklarasi Alumni Jogja untuk Jokowi di stadion Kridosono, Sabtu (23/3/19).

Saya mengiyakan walaupun saya Jum’at pagi tidak datang ke kantor Seknas untuk “melepas”. Itulah yg saya sesali, saya tidak memenuhi keinginan Yamin terakhir. Sekitar jam 16.00 saya dapat kabar yang sangat mengejutkan dari Fahim, “ded… dah denger kabar, Yamin meninggal di Majalengka”. Mendengar kabar yang sepertinya tidak mungkin itu, karena sekitar 1 jam lebih sebelum menerima kabar itu, Yamin masih menelepon saya. Mendengar kabar yg tak terduga itu saya berusaha menahan emosi, berusaha tenang dan saya menyandarkan diri setenang mungkin di kursi mobil. 20 menit kemudian saya minta sopir untuk kembali ke kantor Seknas.

Tiga hari bersama Yamin rasanya masih terngiang apa saja yang ia sampaikan ke saya walaupun ia sudah duluan naik gerbong (istilah pak Mahfud) menuju Sang Khaliq.
Selama tiga hari itu saya melihat kondisi fisik dan pikiran Yamin itu sesungguhnya sangat “lelah”. Tapi kelelahan itu dengan pandainya ia selubungi rapih oleh semangat dan komitmennya untuk memenangkan Jokowi di pilpres 2019. Yamin seolah-olah bertanggung jawab sepenuhnya urusan pilpres itu dan hal itulah yang menjadi beban pikirannya sebelum menghembuskan nafas di Majalengka.

Selamat Jalan Kawan Yamin..
Cita-citamu, semangatmu dan komitmenmu akan kami teruskan.
Semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa menempatkan dirimu di Surganya.

Yogyakarta, 23 Maret 2019
Merdeka…!!
Dedy Mawardi
Sekjen Seknas Jokowi

Loading...

Berita Terkait