Tikam Samurai

ligus juga untuk bertanak. Kalau dari sehiliran Sungai Kampar yang dibawa adalah kayu sebentar beris dan
panjangnya 3 meter, maka penyelundup dari Kepulauan Riau yang mereka bawa ke Singapura adalah kayu bakau, dengan ukuran yang sama.

Orang-orang Kampar menyebut menyelundup itu adalah ‘mengilat’.

Mungkin karena mereka harus memasuki Singapura dalam gelap/malam hari dan bergerak secepat mungkin.
Karena keenakan jual beli di Singapura; beberapa orang dari sehiliran Sungai Kampar, juga dari Kepulauan Riau, memilih menetap di Singapura. Konon saat itu, sekitar 75 – 80 tahun yang lalu, menjadi warga Singapura tidak
begitu sulit.

Kabarnya status untuk jadi warga negara di sana adalah salah satu dari: 1. Punya keahlian tertentu dalam pekerjaan. Semisal ahli dalam bertanak. 2. Punya keluarga warga Singapura yang menjamin.

Nah, buyut Nany punya keahlian bertukang. Bisa membuat meja dan kursi, bahkan membuat rumah.
Dengan dasar itu buyutnya yang berasal dari Desa Buluhcina itu bisa menjadi warga Singapura.

Nenek buyutnya, menurut cerita ayahnya, berasal dari Bukittinggi. Kalau tak salah dari Desa Mendingin atau Mandiangin. Pokoknya begitulah.

Nany menuturkan dia pernah sekali ke kampung buyut lelakinya, Buluhcina. Dia datang bersama selusin orang lain, ingin melihat Buluhcina yg terkenal sebagai Desa