Tak Berkategori  

Tikam Samurai (2)

“Maaf Mom, jika anda keberatan saya yang menyetir anda, ada dua cara bisa ditempuh. Pertama, saya stopkan taksi untuk anda atau saya telponkan sopir lain dari kantor. Begitu dia sampai, saya bisa kembali ke kantor dengan taksi,”.

Gadis itu menatapnya dengan mata melotot.

“Saya tidak keberatan anda atau bangsat manapun yg jadi sopir, tapi …” ucapannya terputus karena tiba-tibadua lelaki kulit putih menerobos masuk.

Seorang duduk di depan, di sebelah si sopir, seorang lagi di belakang di sebelah gadis itu.

“Jalan! Anggap seperti tidak terjadi apa-apa..” desis lelaki yang di depan.

Gadis yg di belakang kaget, dengan cepat dia berusaha membuka pintu untuk turun.

Tapi leher bajunya dicengkeram lelaki yang berada di sebelahnya, lalu dengan kasar menariknya sehingga gadis itu terhenyak duduk.

Demikian kuat sentakan baju di lehernya, membuat gadis itu sampai terpekik.

“Jalan…” ujar lelaki yang duduk di depan kepada sopir.

“Maaf, saya hanya akan menjalankan mobil ini atas perintah nona yang di belakang, se…” ucapannya terhenti, karena tiba-tiba lelaki di sebelahnya menodongkan pistol. Ujung pistol itu ditekankan persis di pelipis kanannya.

“Kuhancurkan kepalamu jika mobil ini tidak kau jalankan, sekarang!”

“Sebaiknya kalian keluar, tuan. Sebelum nona yang di belakang mengusir kalian” ujar sopir itu tak peduli, sambil keluar dari mobil.

Dia berputar, membuka pintu samping depan. Menarik lelaki yang masih saja dalam posisi menodongkan pistol. Anehnya dia masih menodong ke arah sopir duduk. Sementara si sopir sudah berada di luar mobil, di sisi yang lain. Lelaki itu dengan ringan ditarik si sopir keluar. Lalu menurut saja ketika ditegakkan di luar mobil.

Sopir kemudian membuka pintu belakang, menarik lelaki yang masih mencekal bahu gadis itu. Dia disentakkan ke luar. Tangannya yang mencekal bahu si gadis lepas begitu saja. Kemudian ditegakkan di sisi kawannya yang tadi menodong sopir.

Sopir itu kemudian berdiri di pinggir jalan, sekitar lima meter dari mobil yang dia sopiri. Saat sebuah taksi tak berpenumpang lewat, dia menyetopnya. Kemudian bicara dengan sopirnya. Kemudian dia melangkah kembali ke mobilnya. Membuka pintu belakang, bicara pada gadis yang disopirinya dengan sopan.

“Taksi sudah saya setopkan untuk Anda, nona…” (Bersambung)