Tak Berkategori  

Tikam Samurai

ritas yang memakai berbahasa sehari-hari Niger- Kongo. Kehadiran masyarakat Nilotic yang kini mendominasi penduduk Sudan Selatan sudah ada sejak zaman prasejarah. Menurut The Journal of African History yang ditulis Peter Robertshaw, suku Nilotic makin membesar ekspansinya di Sudan Selatan sejak abad ke-14, seiring runtuhnya kerajaan Kristen Nubian dan masuknya para pedagang Arab ke Sudan tengah.

Menurut situs diplomasi antara Amerika Serikat dengan Sudan, perekonomian wilayah Sudan Selatan sejak masih bergabung dengan Sudan didominasi daerah pedesaan, yang utamanya bergantung pada sektor pertanian. Baru pada 2005, geliat perekonomian mulai merangsek ke daerah perkotaan. Meski begitu, wilayah ini tidak terlepas dari dampak negatif perang saudara sejak kemerdekaan Sudan. Pemerintah Sudan melawan para tentara pemberontak selama Perang Saudara Sudan Pertama dari tahun 1955

sampai 1972. Tak cukup sekali, Perang Saudara Kedua bergelora dari tahun 1983 sampai 2005atau lebih dari 20 tahun. Perang berkepanjangan harus dibayar dengan konsekuensi kelalaian negara yang serius, salah satunya adalah kurangnya pembangunan infrastruktur. Juga penghancuran besar-besaran yang mengakibatkan jutaan orang terbunuh dan yang lainnyamengungsi, baik di dalam maupun luar negeri.

Berakhirnya Perang Saudara Sudan Kedua pada 2005 ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian Komprehensif di Nairobi yang dimediasi oleh Otoritas Antar-Pemerintah untuk Pembangunan beserta partnernya.

Termasuk Pemerintah Sudan Selatan yang secara otonom telah dibentuk.

Menindaklanjuti kesepakatan wilayah otonom Sudan Selatan, pada 2011 diadakan referendum pada tanggal 9-15 Januari guna menentukan wilayah Sudan Selatan tetap bergabung dengan Sudan atau memilih merdeka. Hasil referendum pada 30 Januari menunjukkan 98.83 persen