Tak Berkategori  

Tikam Samurai (3)

Gadis itu sesaat masih tertegun dan ternganga menatap sopir itu.

Tadi, ketika dalam ancaman dua lelaki kulit putih itu, dia hanya melihat tangan sopirnya bergerak amat cepat. Akibatnya kedua begundal itu menjadi seperti patung!

“Tolong anda antarkan saya…” ujarnya perlahansambil tetap menatap sopirnya itu dengan takjub.

“Yes Mom…” jawab si sopir sambil menutup pintumobil.

Sambil berjalan menuju taksi yang dia stop, sopir itu mengambil selembar uang dari kantong bajunya, kemudian memberitahu sopir taksi bahwa pesanannya batal, sambil menyerahkan uang ke sopir tersebut.

Taksi itu kemudian melanjutkan perjalanan. Sopir itu kemudian menjalankan mobilnya. Gadis itu melihat kedua lelaki yg tadi mencekalnya dan menodong sopir tersebut masih dalam posisi seperti tadi. Tertegak kaku.

Yang seorang seperti sedang menodong dengan pistolnya. Yang seorang lagi seperti sedang mencengkram sesuatu.

Teleponnya berbunyi. Gadis itu membuka tas tangannya dan mengambil telepon yang berbunyi. Dia bicara dalam bahasa Jepang. Cukup lama. Nampaknya dia menceritakan apa yang barusan dia alami dengan kedua begundal sialan itu.

Tiba-tiba si sopir merasa bahunya ditepuk. Dia menoleh ke belakang, ke arah gadis yang menepuk bahunya. Gadis itu samasekali tidak bicara, dia hanya menghadapkan HPnya ke wajah si sopir.

Terdengar teriakan kecil di telpon. nampaknya yang berteriak lawan bicara si gadis. Gadis itu bicara lagi di telpon, hanya sebentar. Kemudian gadis itu kembali menepuk bahu si sopir.

Si sopir kembali menoleh ke belakang. Gadis itu menyerahkan handphone ke si sopir. Si sopir tak segera paham. Dia tidak menerima telepon yang disodorkan.

Dia justru menepikan mobilnya. Kemudian berhenti.

“Maaf Nona…ada apa?” ujarnya.

“Ada yang mau bicara…”

“Maaf…??”

Ucapan si sopir terhenti, karena gadis itumeletakkan handphone yg sudah dia set suaranya di tangan si sopir. Mau tak mau si sopir melihat ke arah telpon itu. Dan tiba-tiba hampir saja telpon itu jatuh, ketika dia melihat wajah lawan bicaranya.

“Bungsu!! Saya sudah curiga mendengar cerita tentang apa yang yang terjadi barusan. Terutama pada dua begundal yang menerobos masuk ke mobil. Di dunia ini hanya ada satu manusia yang mampu melakukan hal itu. Namanya si Bungsu! Syukurlah anakku berada di mobil yang sangat aman. Sejak kapan engkau di New York, Bungsu san?”

Si Bungsu tidak menjawab. Dia hanya menatap.. (Bersambung)