Tak Berkategori  

Tolong Orang Agar Sembuh dari Covid-19

Oleh Lenggogeni 

PADANG – ‘Dengan ilmu yang dimiliki selama duduk dibangku perkuliahan, saya ingin berkontribusi untuk negara menyelesaikan pandemi Covid-19. Menolong orang banyak. Kelak ini akan menjadi pengalaman berharga dan tantangan dalam hidup saya ketika menjadi seorang dokter’.

Itulah yang menjadi motivasi Dokter Aziziah menjadi relawan Covid-19 di Rumah Sakit Pertamina Jaya. Dokter Ziah begitu sapaan akrab lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada 2018. Ia baru saja menyelesaikan internship di Rumah Sakit Penyangga Perbatasan, RSPP Kamanasa, Malaka, Nusa Tenggara Timur. Ketika wabah Corona memasuki Indonesia, saat itu Ziah sedang mengikuti pelatihan di Jakarta.

“Awal mulanya, ketika ada dua orang dinyatakan positif Covid-19 di Jakarta. Saya berfikir, makin lama, jumlahnya akan terus bertambah. Saya sebagai dokter muda harus membantu pemerintah menyelesaikan persoalan ini,” ucap Ziah kala itu.

Niat mulia itu disampaikan ke orangtuanya. Namun sebelum meminta izin kepada orangtua, Ziah menyakinkan diri dulu untuk menjadi relawan Covid-19. “Awalnya kedua orangtua merasa berat melepas. Setelah diberikan pengertian, akhirnya saya diberikan restu. Dengan syarat saya harus mampu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh,” kenangnya.

Selama menjadi dokter khusus Covid-19, banyak sekali suka duka yang dihadapinya. “Sukanya, saya banyak pengalaman mengurus orang terpapar Covid-19. Dan saya jadi lebih tahu, Corona itu seperti apa. Yang membuat hati saya riang yakni bertemu relawan lainnya dari seluruh daerah di Indonesia. Kemudian saya berinteraksi langsung dengan pasien yang sadar maupun tidak sadar. Saya memberikan semangat untuk mereka. Itu akan jadikan sejarah dalam kehidupan saya kelak,” ucap dokter muda berparas cantik ini.

Namun, dukanya adalah semakin lama, mereka yang terpapar Covid-19 semakin banyak. Menyebabkan tempat tidur penuh. Nakes lain banyak yang tumbang. Dan ia bersyukur belum pernah terpapar Covid-19.

“Doakan saya semoga terhindar dari virus itu,” ucap Ziah yang melaksanakan tugas sebagai dokter jaga.

Dengan ritme kerja hingga delapan jam, ia menjalani tugasnya dengan penuh semangat.

“Jadwal kerja saya, dua hari pagi, dua hari siang, dua hari malam dan empat hari libur. Kalau libur itu kami isolasi mandiri di dalam kamar,” ucap Ziah yang disediakan fasilitas penginapan oleh negara. Diakui Ziah kalau tenaga kesehatan rentan terpapar virus. Untuk itu, sebelum bertemu pasien ia terlebih dahulu mengunakan pakaian APD yang benar. Kalau ada yang robek diganti dulu.

“APD melindungi diri kita. Lindungi diri dulu sebelum menolong pasien,” jelasnya. Sebelum terjun ke lapangan, dia dibekali cara-cara mengunakan dan melepaskan APD yang benar. Setelah APD dilepas, ia harus mandi dan mengunakan pakaian bersih yang berbeda dari yang dipakai sebelumnya.

“Dalam sehari saya mengunakan APD delapan jam. Tantangan kami ketika memakai APD adalah haus, lapar, buang air besar dan kecil. Itu harus dipersiapkan sebelum memakai APD. Kalau saya, makan, minum, buang air besar dan kecil dulu. Dan selama memakai hazmat saya menahan dulu aktivitas itu,” cerita Ziah seraya mengharapkan masyarakat untuk patuhi protokol kesehatan. Mulai dari memakai masker, menjaga jarak hingga mencuci tangan dengan sabun ataupun hand sanitizer. Patuhi protokol kesehatan, untuk melindungi diri sendiri dan keluarga.

Ia merasa sedih, masih ada yang tidak patuhi protokol kesehatan. “Mereka belum merasakan, anggota keluarganya terpapar corona. Setidaknya lindungi diri sendiri dan keluarga dahulu dengan terapkan prokes Covid-19,” ucap Ziah yang ingin melanjutkan pendidikan spesialis paru. (*)