oleh

Tonasa Park, Mirip Kualoa Hawaii

Tonasa Park dengan latar belakang bukit-bukit mirip di Hawaii (kj)

Khairul Jasmi

INI Tonasa Park, milik PT Semen Tonasa, Sulawesi Selatan, dikeliling pebukitan dengan dinding nyaris tegak lurus. Bukit-bukit itu, mengingatkan saya pada obyek wisata terkenal dunia, Kualoa, Hawaii, Amerika Serikat. Jika di sini ada laut, maka akan seperti Halong Bay, Vietnam atau Raja Ampat, Papua.

Bukit batu marmar yang sudah jadi cagar alam itu, menyimpan pesona yang luar biasa. Tak hanya pesona, tapi bisa menjadi medan off road yang ekstrim, outbond serta lokasi petualangan. Apalagi ada danau, bekas tambang melengkapi pesonanya.

Pada Rabu (27/3) saya beberapa kawan-kawan diajak berkeliling oleh pejabat di Semen Tonasa Kepala Departemen Human Capital, Rachmat Noer, Kepala Departemen Akuntansi Sulaeha Muhyidin dan Direktur Tonasa Park Nurfadilah Jufri. Tentu saja tak cukup waktu mengeliling areal seluas 530 hektare itu.

Kami memasuki kawasan pabrik Tonasa I yang sudah ditutup pada 1984. Pabrik ini mulai dibangun 1960 dan produksi pertama 1968 dengan kapasitas produksi 120 ribu ton. Ditutup karena sudah tak sesuai lagi teknologinya. Pabrik ini membuat semen basah, memakan ongkos yang tinggi. Maka kemudian dibuat pabrik Tonasa II. Per 2019, ada empat pabrik yaitu sampai Tonasa V dengan totalkapasitas produksi 5,98 juta ton. Masuk ke pabrik tua itu, ternyata 30 persennya sudah disulap menjadi taman wisata yang setiap tahun menghasilkan minimal Rp480 juta dari penjualan karcis saja.

Bagian yang 30 persen itu disulap menjadi taman, dengan payung-payung digantung terbalik. Ada lokasi hidroponik melon, yang lebih manis dari melon biasa. JTO/Jembatan Timbangan Oto, truk-truk semen, dibongkar, lokasinya kemudian dijadikan akuarium raksasa, dengan lantainya terbuat dari kaca tebal, sehingga pengunjung bisa berjalan-jalan di atasnya. Tak jauh dari sana, ada sebuah sepeda raksasa, tiga kali tinggi manusia. Taman luas inilah yang ramai dikunjungi, terutama setiap akhir pekan.

Saya dan kawan-kawan dari Semen Padang, Hasmeru Hasler, Ajeng Dwiutami, Rausyan Fikri dan Lilik A Sugiyanto diajak memasuki kawasan pabrik. Ternyata luas sekali. Kiln atau tungku berputar pembuat bubur semen, made in Ceko, terlihat membisu, setelah tak dipakai lebih 30 tahun, dipanjat gulma. Ketika dijadikan Tonasa Geo Park belum lama berselang, dubes negara itu beserta teknisi yang dulu memasang kiln serta Dirut pertama Tonasa hadir. Mereka kembali bernostalgia.

Selain kiln, ada pula silo-silo semen yang jangkung, diam menusuk langit. Silo-silo itu jika dipermak bisa menjadi tempat tinggal bertingkat, asal diberi pintu dan AC. Tanki timbun, bangunan pabrik, gudang suku cadang, gudang semen, kantor, tiang-tiang besi, halaman yang luas, jalan yang tertata, kini tinggal dipermak dan jadilah sebuah kawasan wisata sejarah yang menakjubkan, satu-satunya di Indonesia Timur. Menurut Direktur Tonasa Park Nurfadilah Jufri, semua kawasan pabrik akan disulap menjadi Tonasa Park yang sesungguhnya. Yang ada sekarang saja, nyaris tanpa dana telah dipermak oleh kalangan milenial PT Semen Tonasa menjadi obyek wisata.

Bukit-bukit batu
Selepas dari sana kami diajak berkeliling. Melihat lapangan glof yang malah dipungut biaya Rp1 juta jika hendak mengambil foto prewedding. Spot ini disukai karena selain rumput lapangan golfnya juga latar belakangnya pebukitan yang menjulang tinggi, berjejer nyaris tak putus. Selepas dari sana, kami ke Danau Cinta, yang sebenarnya sebuah telaga di kaki bukit batu bekas tambang marmar. Di kaki bukit itulah seharusnya dibuat jalan offroad dan jalan wisata, sehingga benar-benar seperti di Hawaii. Wisatawan diangkut dengan bus-bus berbodi kuat dan terbuka atau dengan jeep.

Semen Tonasa juga punya kolam pemancingan dengan kafe di sisinya. Saat warga memancing musik dimainkan. Ikan dapat, bayar, silahkan bawa pulang atau dibakar di lokasi. Tak hanya kolam pancing, tapi juga lokasi peternakan sapi, meski belum digarap sempurna.

Bukit sekeliling lokasi pabrik Semen Tonasa itu, merupakan anugerah Tuhan, yang dikelola sedikit saja, langsung jadi uang. Dengan demikian, turis asing yang datang ke Sulawesi Selatan, tak hanya dibawa ke Toraja, tapi juga ke lokasi ini, terpaut 68 Km dari Makassar, persisnya di Kecamatan Balocci, Kabupaten Pengkap.

Semen Tonasa
Menurut situs resmi Semen Tonasa, anak perusahaan Semen Indonesia itu, merupakan produsen semen terbesar di Kawasan Timur Indonesia yang menempati lahan seluas 715 hektar di Desa Biringere, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep. Perseroan yang memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen per tahun ini, mempunyai empat unit pabrik, yaitu Pabrik Tonasa II, III, IV dan V. Keempat unit pabrik tersebut menggunakan proses kering dengan kapasitas masing-masing 590.000 ton semen pertahun untuk Unit II dan III, 2.300.000 ton semen per tahun untuk Unit IV serta 2.500.000 ton semen untuk Unit V.

Berdasarkan Anggaran Dasar, perseroan merupakan produsen semen di Indonesia yang telah memproduksi serta menjual semen di dalam negeri dan mancanegara sejak tahun 1968. Lokasi pabrik merupakan daerah strategis untuk mengisi kebutuhan semen di daerah Indonesia Bagian Timur. Didukung jaringan distribusi yang tersebar dan diperkuat oleh sembilan unit pengantongan semen yang melengkapi sarana distribusi penjualan, telah menjadikan perseroan sebagai pemasok terbesar di kawasan tersebut. **

Loading...

Berita Terkait