Tak Berkategori  

Transmisi Corona Terhadap Ekonomi

Elfindri (ist)

Oleh:  Elfindri

KEKHAWATIRAN akan dampak transmisi Virus Corona bukanlah sesuatu yang biasa. Namun cukup luar biasa. Lebih besar dari yang diperkirakan banyak fihak.

Jenis visus ini diberitakan tidak saja di dalam Wuhan ,China. Namun Fenomena baru justru banyak juga kasus baru yang ditemukan berasal dari luar China. Namun berdampak kepada penemuan kasus baru, diantaranya Korea Selatan dan Italia. Kedua negara ini dalam minggu ini membuat sebagian kota-kota mereka menjadi kota tertutup ‘dormitory town’.

Bagi kita tentunya yang juga menarik perhatian adalah seberapa serius dampak virus Corona terhadap ekonomi Indonesia, khususnya. Bagaimana transmisi dampak virus itu. Dan bagaimana mengantisipasi agar daya tangkal ekonomi kita tetap tinggi.

Revisi Pertumbuhan Ekonomi

Kompas Sabtu (22 February 2020) memuat dan menghimpun revisi perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mulai dari Bank Indonesia yang membuka lebar target pertumbuhan ekonomi 5,0-5.4%. Sampai OECD sebesar 5%.  Termasuk Bank Dunia, ADB, IMF dan Asumsi APBN, pada rentang 5.1-5.2%.

Bilamana OECD mengeluarkan perkiraan pertumbuhan ekonomi pada bulan November 2019. Tentu perkiraan ini masih belum menyertakan dampak virus Corona.  Sementara BI pada minggu ke 3 Februari, 2020, koreksi pertumbuhan ekonomi setelah mulai dirasakannya dampak Corona.

Kami yakin dan percaya dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, semua badan yang disebutkan di atas akan melakukan revisi perkiraan pertumbuhan ekonomi. Apakah lebih kuat pesimisnya, atau tetap dengan pendirian pada kisaran 5%.

Biasanya daerah-daerah, kalau pertumbuhan ekonomi sudah dipatok, maka tidak akan melakukan perubahan, mengingat data yang tersedia baru ada setelah enam sampai satu tahun ke depan.

Jika saja koefisien elastisitas dampak pertumbuhan China untuk Indonesia ambilah yang moderat berdampak sebesar 0,4% terhadap setiap pengurangan pertumbuhan ekonomi China 1%, maka tinggal memperkirakan lagi asumsi berapa persen dampak virus Corona terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Jika saja pelambatan pertumbuhan ekonomi 2% di China, maka dampaknya akan terasa minimal 0,8% terhadap Indonesia. Sehingga bayangan kita Indonesia mungkin refisi pertumbuhan ekonominya bisa mencapai 4,2-4,4%.

Namun jika digabung dengan begitu besarnya dampak transmisi pertumbuhan ekonomi terhadap negara lain, seperti Korea Selatan, Italia dan Singapura, maka bisa jadi perkiraan penurunan pertumbuhan ekonomi akan lebih besar dari yang diperkirakan banyak badan dunia ini.

Transmisi

Lewat apa kita menjelaskan transmisi pertumbuhan ekonomi?. Setidaknya dampak eksternal dan internal Indonesia. Untuk dampak eksternal, jelas antara Indonesia (kemudian daerah), yang ada keterkaitannya dengan China, Korea, dan negara-negara lain.

Sektor tourism, misalnya kontribusi China terhadap turis domestic sebesar 16%, tentu itu akan hilang efektif mulai bulan februari 2020, dan kita tidak mengetahui berapa lama.

Diperkirakan akan berdampak besar terhadap daerah tujuan wisata, yang panen dari sektor tourism ini. Diantaranya Bali, Yogyakarta dan Sulawesi Utara, dimana yang menjadi tujuan utama turis dari China. Ini menyusul tentunya turis dari Korea Selatan dan daerah lainnya.

Transmisi berikutnya jelas yang berkaitan erat dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi. Diantaranya adalah dampak pertumbuhan ekonomi pariwisata teradap sektor pengangkutan, hotel dan restoran.

Sementara yang lain, dari eksternal adalah dampak perdagangan, melalui ekspor import antara daerah daerah yang selama ini banyak berhubungan dagang dengan China, Singapura, dan Korea Selatan.

Mengingat laju permintaan impor bahan baku, yang selama ini cukup meyakinkan, seperti Karet, Kelapa Sawit, dan hasil pertanian, akan tergerus oleh semakin besarnya penundaan produksi bagi perusahaan perusahaan yang ada di negara-negara yang selama ini berhubungan dagang dengan Indonesia.

Di balik itu, Indonesia diakui sebagai sebuah negara maju, telah meningkatkan status negara miskin. Release itu menandakan hubungan dagang Indonesia akan semakin baik tentunya dengan Amerika, dan Australia. Dan terganggu dengan Asia Timur sebagai negara yang pesat pertumbuhan ekonominya.

Transmisi kedua adalah dari sisi APBN. Faktor internal Indonesia akan mempengaruhi jumlah ketersediaan dari cadangan devisa, dan penerimaan pajak. Oleh karenanya, refisi APBN akan berdampak kepada penyesuaian aggaran mengingat anggaran negara akan turun sejalan dengan turunnya laju pertumbuhan ekonomi.

Dampak terbesar tentunya dengan semakin beratnya beban APBN, persoalan baru yang akan segera muncul adalah semakin besarnya angka pengangguran. Dalam suatu perhitungan dengan asumsi tanpa Corona saja, Indonesia hanya bisa mampu menurunkan jumlah kemiskinan sebanyak 180 Ribu penduduk miskin (head count index), setiap 1 persen laju pertumbuhan ekonomi. Oleh karenanya akan terasa berat, jika transmisi ini tidak dilakukan penyesuaian dan bekerja dengan skala prioritas tinggi.

Mungkin yang bisa lebih membuat kita tetap terjaga adalah memeratakan target pelaksanaan APBN. Sehingga dampak anggaran masih bisa dirasakan sebagai stimulus.

Jika saja BI dapat menurunkan suku bunga acuan dari 5% menjadi 4.75 persen, maka ketika ada kesulitan biaya transaksi peminjaman uang relative akan turun, apalagi segala kesulitan terhadap selama ini transaction cost akibat pelayanan publik lamban.

Seharusnya program penyesuaian akibat transmisi virus Corona ini dilakukan dengan sungguh sungguh dan terencana secara baik. (Penulis Profesor Ekonomi SDM dan Direktur SDGs Unand)