Tak Berkategori  

UMKM Binaan Pertamina Tetap Produktif Dimasa Pandemi

TETAP PRODUKTIF DIMASA PANDEMI - Marwida, (67), dan Dodi Eka Putra, (46) membungkus kerupuk jangek (kerupuk kulit sapi) di UMKM Kerupuk Kulit Marwida binaan Pertamina di Bungo Tanjung Indah Blok E No17 di Kototangah, Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat (14/7). Pertamina mendorong UMKM agar tetap produktif dimasa pandemi, sesuai tagline UMKM Membangun Negeri. (givo alputra)

PADANG – Masa pandemi wabah virus Corona (Covid-19) memukul ekonomi Indonesia, salah satunya sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Melambatnya pertumbuhan ekonomi itu dirasa sangat UMKM Kerupuk Kulit Marwida di Bungo Tanjung Indah Blok E No17 di Kototangah, Kota Padang, Sumatera Barat.

PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I mendukung UMKM di Sumbar terutama mitra binaan terus berproduksi, produktif di tengah pandemi wabah Covid-19.

Walau sitausi pandemi wabah belum diketahui kapan berakhir, UMKM mitra binaan PT. Pertamina ini tetap memproduksi penganan ringan ini, aku Dodi Eka Putra, 46, pekerja di umkm tersebut.

“Alhamdulillah, berkat bantuan PT. Pertamina sejak dua tahun terakhir hingga hari ini ada kemajuan dan kami tetap memproduksi kerupuk jangek (kerupuk kulit sapi-red), walau situasi covid-19,” kata Dodi, saat meliput di lokasi usaha, Jumat (14/8).

“Kalau tidak kering total hasilnya tidak akan bagus, tidak hanya itu saat pengadonan nanti tidak meresap dan menurunkan kualitas rasa dan bentuk,” lanjut Dodi.

Marwida, 67 sebagai pelaku usaha kerupuk kulit itu juga mengaku sangat terbantu atas permodalan dan pengembangan usaha dari PT. Pertamina. Usaha yang digagas bersama suami tercinta, Jasman sejak 1975 tetap bertahan hingga sampai saat ini.

Menurut Marwida, bantuan modal bergulir lunak untuk mengembangkan usaha berasal dari Pertamina MOR I sejak 2018 sangat bermanfaat dan sangat membantu untuk peningkatan pendapatan keluarga. Hebatnya, dari hasil kerja keras produksi kerupuk kulit yang masih terus berproduksi itu, ia juga terdaftar sebagai jemaah calon haji.

“Kami sangat bersyukur sekali dengan adanya bantuan itu, pendapatan terperbaiki dan ibu juga bisa terdaftar sebagai jemaah calon haji. Ibu telah mandaftar pada 2018 silam,” kata Marwida.

Sejak pemerintah pusat menyatakan darurat bencana wabah penyakit akibat virus Korona di Indonesia. Usaha kerupuk kulit Marwida terpukul, itu diakui Dodi dan Marwida.

Kekalutan sempat menghantui terbitnya kebijakan pemerintah daerah Sumbar menetapkan pembatasan sosial berskala besar. Marwida pun tidak ingin usaha yang telah dirintis pupus begitu saja, ia terus melakukan produksi walau skala kecil. Memasuki masa transisi pemberkuan hidup normal baru mulai memperbesar skala produksi.

“Kami sempat memproduksi kecil kerupuk ini saat pandemi dan berangsur pulih kami mulai secara perlahan dan tetap mematuhi protokol kesehatan dari pemerintah,” ujar Marwida. (git)