Tak Berkategori  

Viral, Harga Mahal Pecel Lele di Malioboro

Twitter.

Sebuah video seorang wisatawan lokal yang mengeluhkan mahalnya harga makanan di Malioboro menjadi viral di media sosial. Di twitter, tagar malioboro pun sempat menjadi trending topik.

Seorang wisatawan perempuan mengutarakan kekesalannya karena menurutnya harga seporsi pecel lele yang sangat mahal dan dinilainya sangat kapitalis. Satu porsi hampir senilai Rp40.000.

“Biasanya kalau makan pecel lele sudah masuk lalapan. Ini mau minta lalapan, malah kena Rp10 ribu lagi,” ujarnya.

Video tersebut pun banyak dibagikan dan dikomentari ribuan pengguna twitter. Warganet banyak berkomentar perihal mahalnya harga di Malioboro tersebut.

“Mungkin mbaknya cuma salah satu aja yang ngomongin soal harga yang ga masuk akal. Padahal kenyataannya banyak mungkin dan gak mau speak up, karena, percumaaa tidakk adaa yg menindakk lanjutiii..,” cuit akun twitter @txtfromjogja yang mempostingnya, Rabu (26/5/2021) siang.

Tak hanya pecel lele, seorang warganet lainnya, @JWilmartin mengungkapkan, tahun 2014, ia sempat menyantap nasi gudeg di pinggiran jalan Malioboro. Ia kaget saat membayar, harga dua porsi nasi itu mencapai Rp85 ribu yang menurutnya sangat tak wajar.

“Pas mau bayar, taunya harga gudeg untuk 2 porsi itu 85rb. Seketika badan eug kaya kena stroke ringan. Dithn 2014 makan gudeg utk 2 org dgn harga 85rb, itu berasa makan gudeg di Ritz Carlton,” cuitnya.

Sementara itu @ikramarki menilai harga makanan yang disajikan disana sangat tak masuk akal. Bahkan ia menilai warung warung di malioboro nggak ‘ngotak’ harganya.

“tips buat wisatawan: kalo mau makan yang beneran murah di jogja, jangan makan di malioboro. di pinggir jalan mana kek; seturan, concat, nologaten, jalan solo atau di mana pokoknya jangan di malioboro,” sarannya.

Sementara, @okihita menulis, konon jalanan Malioboro adalah lahan termahal di Jogja. “Harga sewa lapak seluas empat tegel (4 x 30cm x 30cm) mencapai 50 juta/tahun. Untuk tenda pecel, biaya sewanya 100+ juta/tahun. Pemilik tenda perlu omzet/revenue 15 juta/bulan untuk bisa hidup sebagai kelas-menengah Jogja,” cuitnya. (rn/*)