Opini

Visi dan Ideologi Masjid

×

Visi dan Ideologi Masjid

Sebarkan artikel ini

Masjid menyucikan artinya bukan sebatas penyucian jiwa dan ruhani umat melalui khutbah, ceramah dan pengajian di masjid, tetapi juga pengurus masjid membuat program untuk menyucikan umat dari perlakuan kotor dan keji pelaku ekonomi riba, rentenir dan tengkulak yang menindas masyarakat lemah yang lazimnya menjadi jamaah utama masjid.

Memberdayakan ekonomi jamaah masjid melalui program anti riba, menyucikan usaha dari rentenir dan praktik ekonomi kapatalis yang menjerat, tentu mesti menjadi visi masjid yang menjadi kebutuhan untuk direalisasikan oleh Pengurus Masjid. Jamaah Masjid bersih dari riba, rentenir dan tengkulak adalah wujud dari perintah Allah, masjid yang menyucikan.

ANTI DHIRAR
Masjid anti dhirar artinya masjid yang tidak terlibat dan mencegah sekuat-kuatnya perbuatan dan tindakan yang menimbulkan kemudaratan (dhirar). Ada 3 (tiga) jenis bahaya atau kemudaratan yang diprogram oleh kaum munafiqin yang diingatkan Allah yang harus diantisipasi dan dicegah adanya di masjid. Artinya….Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu (QS. al-Tawbah/9:107).
(1). Kegiatan Pembangkangan
Kegiatan yang berbahaya (mudarat) yang ada di Masjid apapun bentuk kegiatannya adalah berupa aktivitas dapat yang menimbulkan penolakan, dan pembangkan terhadap jalan kebenaran. Haram dilakukan di Masjid kegiatan yang berujung pada bentuk kegiatan yang merusak tatanan kebaikan dalam wahyu, norma, adat dan peradaban luhur. Masjid hanya untuk ketaatan dan keluhuran hidup.

(2). Pecah belah umat
Dhirar (bahaya dan mudarat) yang tak kalah hebatnya di masjid adalah kegiatan yang bermuatan pecah belah umat, provokatif, hoax dan ujaran kebencian. Kesatuan umat, umat berkualitas, umat moderat dan umat yang dijadikan model bagi umat lain adalah visi persatuan yang dibawa masjid yang wajib ditegakan.

Manyediakan ruang politik praktis, politik kekuasaan, atau politik yang bertujuan jangka pendek, seperti aktivitas yang berkaitan dengan mengajak dalam Pemilihan Presiden, Pemilihan Legislatif dan Pilkada di masjid adalah bentuk dari menyediakan ruang dan kesempatan adanya pecah belah, adu domba dan intrik di masjid yang mesti dijauhkan sejauh-jauhnya.

Dewan Masjid Indonesia, (DMI) Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) dan tentu juga organisasi kemasjidan lainnya menghimbau kiranya politik berbasis pembinaan aqidah yang sehat, akhlak dan moralitas yang tinggi, politik kejujuran dan politik kesejahteraan adalah visi, misi dan ideologi masjid yang intinya untuk menjadikan ruang masjid yang sehat bagi semua umat (rahmatan lil alamin). Masjid yang sepi dari ruang politik penguatan iman, akhlak mulia dan kebaikan yang luas (ihsan) itu adalah pengabaikan masjid berbasis taqwa, dan suci menyucikan.

(3). Politik Jahat
Masjid yang dijadikan basis perjuangan bagi kepentingan jangka pendek (interest) adalah ancaman atau mudarat yang harus dicegah. Masjid sebagai tempat kampanye untuk kepentingan individu, kelompok dan partai tertentu berbahaya bagi kebaikan umat dan masjid itu sendiri. Sebab kegiatan politik praktis itu sesaat, jangka lima tahunan, sedangkan aktivitas masjid tiada henti.

Inti pesan yang ingin ditegaskan adalah bahwa masjid yang dijadikan sebagai pangkalan, tempat pergerakan, khutbah yang sarat muatan politik praktis, ceramah yang berisikan himbauan memilih caleg yang dilakukan oleh partai politik atau politisi jika tidak hati-hati dapat berubah menjadi bentuk praktik masjid dhirar yang mesti dihentikan. DMI, dan BKM serta semua pengerak masjid tentu mendukung larangan masjid tempat kampanye partai politik di musim pemilihan umum dan Pilkada.

MISI DAN PROGUL MASJID
Penerjemahan visi dan ideologi masjid dalam bentuk misi dan program unggulan (progul) masjid telah disebut dengan jelas dalam surat al-Taubah ayat 18.
(1). Masjid Pusat Ibadah dan Bina Umat.
Misi dan program unggulan di masjid adalah terlaksananya ibadah yang baik dan begitu kegiatan yang bertalian dengan pembinaan keislaman yang meliputi dakwah (syiar Islam), tarbiyah (pendidikan Islam), dan hadharah (budaya dan perabadan Islam).
(2). Masjid Pusat Kebaikan umat.
Masjid adalah locus dan modus yang terus digerakan untuk terjadinya perubahan dan peningkatan kebaikan umat, kesejahteraan sosial dan ekonomi umat. Kewajiban membayar zakat, dan pengelolaan dana umat infaq, sadaqah, wakaf dan filantropi Islam adalah program utama yang terus semangkin baik pengelolaannya.
(3). Masjid Benteng Akhlak.
Masjid yang teguh dan tangguh dalam menjaga akhlak umat dan menjadi wadah candra dimukua pembentukan kader umat yang militan, tidak gentar, kecuali hanya pada Allah swt saja, adalah perwujudan dari program yang berhulu misi masjid.

Tiga misi dan program unggulan (Progul) Masjid di atas adalah simpulan yang digariskan nash untuk dikembangkan oleh pengerak dan pengelola masjid. Visi, misi, dan program masjid di atas sulit dicapai, ketika ideologi masjid tidak cukup kuat tertanam dalam diri pengerak dan pengurus masjid.

Progul masjid dapat efektif bila pengelola masjid dengan jelas menyamakan visi, misi, ideologi dan program unggul masjid. Memastikan jamaah masjid dengan data yang jelas, tidak sebatas jamaah shalat saja, tetapi kondisi riil umat disekitar masjid adalah kerja utama untuk berjalannya program masjid.

Mengelola masjid dengan data akurat dan dapat diakses semua jamaah adalah kerja prinsip untuk menghadirkan MASJID MAKMUR DAN MEMAKMURKAN, DI MAKMURKAN MASJID, sebagaimana tagline Dewan Masjid Indonesia (DMI) MASJID DIGDAYA (FULL POWER) tagline Badan Kesejahteraan Masjid (BKM). Padang@01102023. (***)

Opini

Sejak beberapa tahun belakangan ini, PT Kereta Api…

Opini

Semen Padang merupakan tim kebanggan urang awak. Tidak…

Opini

Oleh Eriandi Kasus perundungan atau bullying kembali terjadi…