Tak Berkategori  

Wabah Ini: THR Rinai Pambasuah Luko

Khairul Jasmi (ist)

Khairul Jasmi

Uang adalah salah satu ide yang mengguncangkan penyederhaaan di segala zaman…Ia menciptakan revolusinya sendiri ( Paul J Bohannan)

***
“Kalau ada THR, sekadar rinai pambasuah luko,” kata seorang kawan tatkala ia dengan rasa segan mengirim pesan WA kepada saya. Hari raya di Indonesia, bukan hanya hari perayaan agama, tapi juga helat kolosal umat Islam. Berjalin berkulindan dengan tradisi, silaturahmi, filantropi dan rindu bau tanah di belakang rumah emak.

Ketika kanak-kanak, saya pernah tak berbaju baru ketika lebaran, adik-adik juga. Tiap kita pernah melalui masa lampau itu, betapa bahagianya atau sedih. Soal-soal meriah, lebaran sudah jadi lagu. Kini, dunia berputar ke arah lain, segalanya berubah, ngilu, di ulu hati serasa menikam, karena selalu saja lebaran adalah wilayah jiwa, sekaligus “pertandingan sosial.”

“Sebaiknya kita rileks di rumah saja, jangan keluar dulu, sejak 15 Maret ini kita mulai, sebab satu orang bisa menularkan corona pada empat orang,” kata Gubernur DKI Anies Baswedan, di acara ILC TvOne ketika saya membuat tulisan ini, Selasa (129/5) malam. Siang tadi, saya melakukan live untuk radio Classy FM Padang, bersama Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, Prof Elfindri, Dr Asrinaldi dan Wawako Sawahlunto, Zohiri Sayuti, membahas perlindungan soal bagi korban Covid-19. Dari tujuh jenis bantuan, sudah dibagi tiga, sisa tiga dan satu distop sementara. Yang distop sementara itu, bantuan langsung dari Kementerian Sosial yang datanya belepotan. Bikin heboh saja, bikin kerumuman orang saja di Kantor Pos Besar, Padang.

Lebaran
Shallu fi buyutikum, shalat di rumah saja, sudah delapan pekan. Taraweh juga demikian, Ramadhan kali ini, sepi sesepi hati tiap umat yang rindu berjemaah. Sehabis Ramadhan, datanglah Idul Fitri, inilah hal yang ditunggu-tunggu, tapi mudik tak bisa, pulang kampung terlaksana juga, sebab tak satu jalan ke roma.

Entah akan shalat di lapangan entah tidak, sepertinya tidak, seolah ada yang direnggutkan dengan paksa. Apapun, hal itu akan diterima, bagi yang mau dan akan diabaikan oleh warga di zona hijau dan oleh mereka yang tak mau mengerti. Di Makkah saja, dipatuhi umat, harusnya di sini juga.

Lebaran, kemudian menjadi hari libur panjang, jalan macet. Sebagai contoh, Padang-Bukittinggi yang biasanya 3 jam, saat lebaran lumayan kalau tembus delapan jam. Kini? Berlebaran ada rasa takut yang datang dari dalam. Takut karena maka sebaiknya, tinggal masing-masing, menjaga anggota keluarga. Jaga suami, jaga istri, jaga anak, jaga cucu, jagalah orang tua dan mertua, agar jangan dihantam virus corona. Yang susah, suamidi sini, istri di sana, tak bisa bertemu karena corona.

Mungkin ini yang terbaik, sebab jika salah satunya kena, se isi rumah akan tersungkur. Karena itu, mempertentangkan PSBB yang diatur pemerintah dengan kehendak individu tidaklah pas. Menurut analisa saya, ada bibit perlawanan sosial kepada pemerintah karena PSBB. Ini disebabkan, karena sebagian warga punya tabiat pembangkang. Kenapa? Bisa jadi ini warisan zaman penjajahan, ketika itu semua warga bertekad melawan penguasa Belanda. Bibit itu dicampur-aduk dengan kebebasan dan demokrasi, maka muncullah carut bungkang di pasar, perlawanan sejumlah orang dengan mempertentangkan rumah ibadah pasar. Ke pasar untuk perut, ibadah bisa di rumah, namun itu tak bisa diterima, sebagian orang.

Di tengah pembangkangan setengah hati itu, ”Lebaran sudah tiba.” Anak-anak merengek minta baju baru, bagi yang menganggur bisa jatuh ke dalam air dibuatnya, kalau tak percaya cobalah punya anak dan cobalah saat itu jadi orang miskin. Anak-anak tak bisa dihibur-hibur. Inilah yang menikam ulu hati, ngilunya tak tahu akan diteriakkan kemana.

Uang dan beras
Tulang punggung kedamaian sebah negeri baru berkembang, adalah beras. Jika beras ada, urusan beres. Berikutnya baru kebutuhan lain.Yang manapun, kumparannya adalah uang. Untuk dapat uang, harus bekerja. Seorang kawan mengaku, saudaranya baru di PHK. Kawan lain mengeluh pendapatannya menurun tajam. Sumber masalahnya adalah Covid-19 dengan dampak sosial dan ekonomi. Orang gagap menghadapi musibah ini, mau di rumah atau mau kerja, sehat tak ada uang atau sakit tapi uang ada. Ragu menangkap langkah, tak hanya rakyat namun juga pernyataa-pernyataan pejabat. Juga yang lain, malah suka mempelintir. Sekejap kemudian kita sadar, uang mana, uang!

Indonesia yang mau lebaran ini, menangani wabah dengan anggapan, wabah ini “kronis” bukan “akut.” Kalau kronis, maka itulah PSBB sedang jika akut, lockdown, kunci mati. Karena pilihannya PSBB, maka ekonomi menjadi pertimbangan. Itu sebabnya PSBB katanya dilonggarkan agar rakyat bisa cari uang. Semestinya semua tindak-tanduk ekonomi dihentikan total dan diambil-alih pemerintah. Itu benarlah yang tak bisa.

Dalam suasana PSBB longar-longgar tanggung itulah, kita akan berlebaran. Di televisi sudah meriah, di hati masih ngilu, tapi uang sedang merepet tak mau masuk dompet. Dunia, terutama Amerika pernah bangkrut dalam semalam, dunia risau hal itu terjadi lagi sekarang. Selalu saja, lebih gampang menulis tentang uang daripada mendapatkannya. Apa yang disebut Voltaire ini, sekarang menemukan kebenarannya untuk kesekian kalinya.

Uang membuat harga telur bisa naik, harga saham bisa turun, tapi tidak bisa menjinakkan corona. Itulah sebabnya perantau Minang, seorang perempuan terengah-engah di bandara Halim Perdanakusuma hari pertama PSBB diberlakukan. Uangnya sudah habis, jika tak pulang kampung, ia bisa kelaparan di ibukota, di tempat 80 persen uang bersarang.

Yani Fitri (35), seorang perantau, berhasil meninggalkan Jakarta menuju Padang, Sumatera Barat, pada hari pertama penerapan larangan mudik, Jumat (24/4/2020). Jika gagal, ia tidak tahu bagaimana bertahan hidup di Ibu Kota di tengah pandemi Covid-19. (kompas.com). Ini baru satu, contoh lain tak terbilang. Segalanya tentang corona, uang, persoalan sosial dan kedamaian di kampung halaman, rumah masa kecil itu.

Menurut Prof Elfindri dari Unand, zaman corona gila ini, orang miskin hanya punya ketahanan untuk tujuh hari, agak bagus sedikit ekonominya dua atau tiga bulan. Yang kaya tak risau. Itulah sebabnya perlu kedermawanan dan tindakan pemerintah. Pemerintah Sumbar mengakui, ada angka yang simpang-siur tatkala pemerintah pusat mau mengucurkan bantuan, contohnya dari Kemensos itu, maka lambatlah bantuan tersalurkan dan rakyat bisa sabar.

Lalu, lebaran dan THR, yang jutaan orang bekerja biasanya menerima THR, sekarang tidak, yang menganggur menerima “THR” dari yang berpunya, sekarang terhenti, bagai truk direm mendadak, terjadi guncangan di setiap rumah tangga. Makanya kemudian, ”sekadar rinai pambasuah luko,” sebagai mana judul tulisan ini, adalah harapan terakhir. Seberapa sajalah, asal ada. (*)