Warga Bukik Ase Ubah Sampah Jadi Emas

Souvenir cantik dari olahan sampah plastik, bisa berharga tinggi, berkat didikan di bank sampah. Tampak Eko Muhardi (tengah), pendiri dan pembina Bank Sampah Pancadaya 11, memegang souvenir yang harga satuannya bisa Rp25.000. (hendri nova)

Warga Bukik Ase Ubah Sampah Jadi Ema

PADANG – Shalat Jumat baru saja berlalu sekitar satu jam lalu. Kala itu di kaki bukit bernama Bukik Ase, Kuranji Padang, terlihat aktivitas yang lumayan sibuk.

Beberapa ibu-ibu dengan berjalan kaki maupun mengendarai sepeda motor, satu per satu berdatangan ke lokasi Bank Sampah Pancadaya 13 Bukik Ase, binaan Bank Sampah Pancadaya dan pegadaian.

Mereka membawa berbagai sampah plastik maupun kertas untuk ditimbang.

Sebelum ada bank sampah di daerah mereka, sebagian besar kaum ibu membuang sampah mereka ke tempat yang telah disediakan Pemko Padang. Semua jenis sampah ditumpuk dan dimasukkan dalam kantong plastik, kemudian dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir.

“Butuh tujuh tahun bagi kami untuk mendatangkan kesadaran warga, agar mengubah sampahnya menjadi emas. Alhamdulillah sudah tiga tahun belakangan, bank sampah berhasil membantu ekonomi keluarga,” kata Direktur Bank sampah Pancadaya, Mina Dewi Sukmawati, yang juga Pembina di Pancadaya 13 Bukik Ase, kepada Singgalang, Jumat (12/8).

Ia mengatakan, setelah masyarakat sadar, perlahan mereka mulai memilah sampah. Kini hampir 1.000 orang mendaftarkan diri sebagai anggota dari bank sampah.

“Lokasi bank sampah tidak memerlukan tempat khusus, di bawah pohon pun bisa. Jadi setelah sampah terkumpul dan semua anggota sepakat segera menjual, maka kami akan datang dengan mobil khusus mengangkut sampah yang akan kami konversikan jadi emas,” ungkapnya.

Prosesnya sangat sederhana, dimana setelah sampah ditimbang, jumlahnya dicatat, lalu akan dibawa ke dalam gudang. Pengelola bank sampah kemudian akan menjual langsung pada pabrik pengolah, di saat harga mahal.

“Jadi kalau harganya sedang turun, kami akan simpan dulu di gudang. Begitu harga naik, baru kami jual. Jadi semua anggota kami untung,” tuturnya.

Hasilnya bisa mereka minta dalam bentuk rupiah, bisa juga dalam bentuk emas. Semua berkat kerjasama dengan Pegadaian, sehingga tabungan peserta langsung dikonversi menjadi emas.

“Emas harganya naik terus, sehingga saat menjual nanti, semua anggota mendapatkan untung yang banyak,” ucapnya.

Ia berharap, makin banyak komplek perumahan yang memiliki bank sampah, sehingga masalah sampah bisa teratasi sampai komplek saja. Besar harapannya dapat tempat khusus untuk melakukan pengelolaan.

Sampah organik akan dijadikan kompos, pupuk cair, sampai ternak maggot. Maggot bisa dijadikan pakan ternak, kotorannya pun laku untuk pupuk.

Sementara yang anorganik, dipilih untuk dijual ke pabrik pengolah. Untuk sampah-sampah sachetan, akan diolah menjadi souvenir-souvenir yang bisa dijual.

Modal Jadi Sarjana

Keberadaan bank sampah, sangat dirasakan manfaatnya oleh para anggota yang salah satunya Iwit. Ibu lima anak ini, memiliki mimpi besar menjadikan anak-anaknya sarjana dari emas sampah yang ia tabung.

“Tiga anak saya sekarang sudah di SLTA. Mereka semua ingin kuliah dan rajin membantu saya memungut sampah sepulang dari sekolah,” ungkapnya.

Ia mengaku mau menjual ke Bank Sampah Pancadaya, karena uangnya bisa langsung ditabung dalam bentuk emas. Begitu nanti anaknya tamat SLTA, tabungannya diambil untuk modal masul Perguruan Tinggi (PT).

“Kalau dijual ke pengumpul, uangnya habis begitu saja. Makanya saya kuatkan hati, untuk menabung dalam bentuk emas, agar satu saat nanti saya bisa memiliki anak-anak yang bisa membuat kepala saya tegak di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya.

Karena memiliki mimpi besar, Iwit mengaku tak hanya mengandalkan sampah dari rumah tangganya saja. Ia hampir tiap hari berkeliling mengumpulkan sampah-sampah yang bisa untuk dijual.

Sedangkan En, selangkah lebih maju dibanding rekannya yang lain. Sebelum menjual botol gelas plastiknya ke bank sampah, bagian kepalanya yang keras ia potong dengan pisau cutter.

“Bagian yang kerasnya ini, bisa dibuatkan beragam souvenir, seperti tempat minuman, dompet, dan masih banyak lainnya. Dibutuhkan keterampilan merangkai tali berwarna, untuk menutupi semua bagian keras gelas kemasan,” ungkapnya.

Hasilnya, paling murah hasil kreasi yang ia buat bisa dijual dengan harga paling murah Rp25.000. Makin rumit dan besar souvenirnya, tentu harganya bisa lebih mahal.

“Semua keterampilan ini tentu berkat didikan bank sampah yang juga turut memasarkan hasil produk yang saya hasilkan,” ungkapnya.

Sementara Eko Muhardi, pendiri dan pembina Bank Sampah Pancadaya 11, Taratak Paneh, Korong Gadang, Kuranji, mengatakan melakukan penjualan sampah dua kali dalam sebulan.

“Kami mengolah sampah basah sebagai pakan maggot dan sampah kering untuk dijual kembali ke bank sampah,” katanya.

Untuk yang bisa diolah menjadi kerajinan, maka sampahnya diolah menjadi kerajinan tangan. Hingga kini sudah ada 63 nasabah yang sudah bergabung.

“Untuk tabungan emas, per anggota sudah ada yang sudah di atas 200.000 dan ada juga yang menabung secara langsung,” ujarnya.

Ia berharap pemangku kebijakan terus ikut menyadarkan masyarakat, agar rajin memilah sampah untuk dijadikan emas. Sampah mereka bernilai emas, maka dari itu jangan dibuang lagi.

Sedangkan Yusrizal KW, salah seorang pembina Bank Sampah Bukik Ase, terus berupaya mengedukasi masyarakat dan membina kebersamaan antar anggota. Salah satunya pada pertengahan Juli lalu, anggota dibawa jalan-jalan gratis ke Arau, Bukittinggi.

“Mereka kita sewakan mobil biar semangat pilah sampah dan setelah menjual sampah, mereka belajar tahsin,” katanya.

Menurutnya, siapa saja bisa membuat bank sampah, dengan syaratnya ada minimal 20 nasabah dan dibuatkan rekening tabungan emas di Pegadaian. Uang pangkal Rp60 ribu sebagai isi awal tabungan emas. (hendri nova)