Ziarah ke Makam Rasuna Said di TMP Kalibata

Khairul Jasmi

Seorang bapak yang sedang menyiram bunga di Taman Makan Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta mengantar saya ke depan makam Rasuna Said, Sabtu (19/11).

Saya sampai di sana, memanjatkan doa dan membacakan Al Fatihah. Bukan hanya untuk Rasuna tapi juga untuk pahlawan yang dimakamkan di sana.

“Rangkajo H Rasuna Said Anggota DPA lahir 14-9-10, wafat 2-11-65.” Demikian tertulis di nisannya. Makam itu bersih dan ada taburan bunga di atasnya.

Saya memandang sekeliling, ternyata di sebelah kiri adalah makam Pahlawan Revolusi.
Satu barisan dengan Rasuna Said, dimulai dengan makam Jenderal Ahmad Yani diberi nomor 79.

Kemudian Letjen Suprapto nomor 80, Letjen MT Harjono (81), Letjen S. Parman (82) Mayjen Sotojo Siswomi Hardji (83). Kemudian nomor Nazir Datuk Pamuntjak nomor 84. Lahir 10 April 1919 dan wafat 7 Oktober 1965, sebulan sebelum Rasuna Said.
Nama lengkapnya Mr Mohammad Nazir Datuk Pamuntjak, adalah seorang diplomat asal Selayo, Solok. Ia wafat di Manila ketika sedang bertugas di sana.

Tamatan Laiden Law School ini, adalah pejuang kemerdekaan. Pernah ditahan Belanda bersama Bung Hatta. Almarhum adalah ayah dari Djunita Pamoentjak yang dikenal dengan nama Jajang C Noer, sutradara dan bintang film itu.

Di sebelah Datuk Pamoentjak inilah makam Rasuna Said diberi nomor 85. Dua makam kemudian terdapat Makam Sutan Sjahrir dengan nomor 89. Jadi di deretan itu ada tiga anak Minangkabau yang dimakamkan. Sjahrir lahir 5 Maret 1909 dan wafat 9 April 1966 di Swiss dan langsung ditetapkan jadi pahlawan nasional.

Jumlah pahlawan nasional dari Sumbar sampai sekarang tercatat 15 orang dari 191 pahlawan, Sumbar menempati urutan ketiga. Rasuna dan Ruhanna Kudus dua perempuan Minang dari 15 pahlawan perempuan Indonesia. Keduanya dari Agam.

Di banyak daftar selalu disebut Mandeh Sitti Manggopoh adalah pahlawan nasional, sejauh itu pemerintah belum menetapkan pejuang hebat ini sebagai pahlawan, walau sudah diusulkan. Nama yang lain yang sedang diusulkan adalah Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah el Yunusiyyah dari Padang Panjang.

Rasuna Said, terakhir adalah anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Tentu saja tak disengaja makam anak Minang berderet tiga di sana, tapi memang waktu wafatnya berdekatan. Berdekatan pula dengan makam Pahlawan Revolusi.

Rasuna meninggal dunia menurut keterangan resmi dokter, disebabkan penyakit yang ia idap, kanker darah, walau beberapa hari sebelum meninggal tidak ada tanda-tanda apapun yang terlihat.

Jamaknya oerempuan, ibu bagi anak dan nenek bagi cucu-cucunya, seringkali menyimpan rasa sakitnya sendiri. Ia tak mau mengeluh apalagi menangis di depan orang yang ia cintai. Demikianlah Rasuna.

Sampai menjelang akhir hayatnya, rumah Rasuna senantiasa ramai. Tidak saja tamu orang-orang penting, tapi juga dunsanak atau kawan dari kampung. Rumah itu kadang-kadang jadi tempat “transit” bagi perantau Minang.

Dan saya selesai takziah di TMP. Saya melangkah pergi, terserobok dinding marmer tinggi. Di sana tertulis nama-nama siapa saja yang dimakamkan di TMP ini. Sedemikian banyaknya, tapi hari ini yang ziarah tak begitu banyak. Saya meningglkan TMP setelah mengambil kembali kartu identitas di pos penjagaan.(*)